Berbagai istilah latin digunakan terhadap manusia seperti misalnya homo sapiens, homo homini lupus, homo roboticus, homo deus, homo ludens.
Homo ludens berarti manusia bermain. Bermain merupakan bagian hakiki peradaban manusia sebagai unsur penumbuh-kembang lahir-batin manusia. Satu dari sekian banyak bentuk homo ludens adalah bermain dengan kata-kata dan dalam bahasa Indonesia termasuk apa yang disebut sebagai kata-ulang. Beraneka-ragam kata-ulang ibarat beraneka-ragam manik-manik yang Bhinneka Tunggal Ika potensial diuntai menjadi sebuah kalimat.
Untaian
Sesuai sukma homo ludens, merangkai 25 kata-ulang untuk menjadi suatu kesatuan kalimat merupakan suatu bentuk tantangan daya kreatifitas tersendiri yang menarik untuk diejawantahkan. Semisal sebuah kalimat terdiri dari rangkaian 25 kata-ulang sebagai berikut “Pagi-pagi, nenek-nenek, jalan-jalan, mondar-mandir, ke sana-kemari, kira-kira, berjam-jam, lihat-lihat, kupu-kupu, lucu-lucu, di sana-sini, tiba-tiba, ketar-ketir, gara-gara, lagi-lagi, masing-masing, pura-pura, sama-sama, bikin-bikin, sekonyong-konyong, dikunyah-kunyah, laba-laba, sampai-sampai, mirip-mirip, gado-gado“.
Uraian
Kata-ulang “pagi-pagi” menegaskan waktu adalah dini hari sementara “nenek-nenek” bermakna banyak nenek dan “jalan-jalan” merupakan kegiatan tamasya yang dijelaskan sifatnya dengan kata-ulang dwirupa beda 2X2 = 4 huruf yaitu “mondar-mandir” dilengkapi penegasan berbagai arah gerak pada “ke sana-kemari” disusul “kira-kira” identik dengan “sekitar” sementara “berjam-jam” berarti lebih dari satu jam dalam makna bukan alat penunjuk waktu tetapi waktu yang sama dengan 60 menit melakukan kegiatan “lihat-lihat kupu-kupu lucu-lucu di sana-sini” .
“Tiba-tiba” merupakan kata utuh mandiri bermakna mendadak. “Ketar-ketir” adalah jenis kata-ulang dwirupa dengan beda dua huruf “a” dan “i” disusul kata-ulang utuh bermakna mandiri yaitu “gara-gara” bermakna akibat “lagi-lagi, masing-masing” alias berulang kembali pada setiap “pura-pura, sama-sama” atau seolah-olah (kata-ulang!) bersama “bikin-bikin, sekonyong-konyong” yang sama artinya dengan seakan-akan (kata-ulang!) membuat secara mendadak “dikunyah-kunyah, laba-laba, sampai-sampai, mirip-mirip, gado-gado” yaitu dilahap oleh predator berkaki delapan sehingga menjadi agak mirip hidangan khas Indonesia terdiri dari campuran aneka sayuran bersiram bumbu kacang.
Bhinneka Tunggal Ika
Terasa betapa suasana Bhinneka Tunggal Ika hadir pada kepribadian kata-ulang bahasa Indonesia yang memiliki beranekaragam jenis dan makna saling beda satu dengan lain-lainnya namun senantiasa siap diuntai secara homo ludes menjadi sebuah kesatuan kalimat bermakna ekspresif sekaligus impresif melalui sentuhan aneka-ragam logika mau pun non-logika yang menyatukan berbagai nilai estetikal mulai dari ranah realisme merambah sampai ke surealisme mau pun fraktalisme.
Jaya Suprana
Penulis adalah pembelajar estetika bahasa Indonesia