Netizen

Malu Sederhana

Oleh: Admin Senin 14 Okt 2019, 12:55 WIB
Jaya Suprana/Dok pribadi

Dalam penelitian malumologis terhadap perasaan yang disebut sebagai malu, ditemukan berbagai jenis rasa malu. Satu di antaranya adalah malu sederhana.

Gengsi 

Malu sederhana adalah rasa malu akibat tampil sederhana atau malu atas kesederhanaan pada hakikatnya merupakan suatu bentuk perasaan berasal dari kawasan status sosial. Maka malu sederhana merupakan gejala psikopersonal merangkap psikososial. 

Status sosial terkait gengsi apa boleh buat memang kuat dipengaruhi oleh nilai-nilai keduniawian dan kehartabendaan. Maka banyak pihak malu dianggap miskin apabila tidak memamerkan kuantias dan kualitas harta-benda yang  dianggap memadai untuk dianggap kaya. 

Dapat disimpulkan bahwa malu sederhana bersifat persepsional alias terkait pada apa yang disebut sebagai anggapan belaka. Pada masyarakat Indonesia malu sederhana diperparah oleh  xenofilia yaitu kegemaran bahkan kecintaan terhadap hal serba asing. 

AYO BACA : Jaya Suprana di Vatikan

Xenofilia berhasil memberhalakan segala hal beraroma  luar negeri sehingga pasien merasa lebih bangga apabila dirawat di rumah sakit luar negeri ketimbang rumah sakit dalam negeri sendiri. Kaidah cantik dan tampan disesuaikan dengan penampilan bintang film India atau Jepang atau Korea atau Hongkong. Wajah Indo kebarat-baratan dianggap jauh lebih rupawan. 

Merek 

Mereka yang malu dianggap miskin  menenteng tas buatan luar negeri berlogo merek ketimbang tas buatan dalam negeri tanpa merek.  

Banyak yang bangga mengenakan sepatu bermerek Italia ketimbang sepatu buatan Cibaduyut padahal banyak sepatu bermerek Italia  diproduksi di Indonesia akibat gaji buruh di Indonesia lebih murah ketimbang di Italia. Akibat malu sederhana maka wajar apabila kita bangga bahwa presiden Indonesia menggunakan mobil Mercedes-Benz meski pada kenyataan sering mogok. 

Biar mogok asal mersi. Atau biar mersi asal mogok.

AYO BACA : Pelantikan Kardinal Suharyo di Vatikan

Keren 
 
Lulusan perguruan tinggi dalam negeri harus ikhlas menerima nasib dianggap kurang keren ketimbang lulusan perguruan tinggi luar negeri. 

Saya yang pernah belajar dan mengajar di luar negeri yakin bahwa sebenarnya pendidikan di dalam negeri tidak kalah bermutu ketimbang pendidikan di luar negeri. Maka setelah belajar seni musik di Jerman, saya kembali ke Indonesia untuk lanjut berguru pada Ki Nartosabdo. 

Dalam pembicaraan sok ilmiah , para pembicara sengit bersaing keren-kerenan menggunakan istilah asing sebanyak mungkin tanpa benar-benar mengerti apa sebenarnya makna istilah asing.

Pemberhalaan 

Pada hakikatnya fenomena malu sederhana merupakan bukti kedigdayaan ideologi kapitalisme memengaruhi umat manusia memberhalakan kebendaan demi memungkinkan mekanisme mesin penggerak industri menggairahkan konsumen mengkonsumsi produk massal yang sudah terlanjur diproduksi secara berlimpah-ruah jauh melebihi ambang batas kebutuhan konsumen yang sewajarnya. 

Akibat malu sederhana maka konsumen merasa bangga menggunakan produk bermerek gengsi dengan harga luar biasa mahal padahal produk yang sama tapi tanpa merek bisa diperoleh dengan harga jauh lebih murah.  

Akibat tidak mau ketinggalan ikut terhanyut dalam arus gerakan malu sederhana maka saya merasa bangga menggunakan sarung hape keren Eye Trunk IPhone 7 plus  dengan kanvas berhias monogram logo Louis Vuitton dengan harga Rp 100.000 yang diam-diam saya beli di pasar pagi Mangga Dua seharga Rp 100.000, padahal harga produk aslinya  US $ 1.250. 

Jaya Suprana 
Penulis berusaha untuk tidak malu sederhana 

AYO BACA : Pembunuhan Karakter

Reporter Admin
Editor Widya Victoria