Netizen

Keajaiban Kata Ulang

Oleh: Admin Minggu 13 Okt 2019, 12:19 WIB
Jaya Suprana/Dok pribadi

Kata-ulang dalam bahasa Indonesia memiliki keajaiban tersendiri.

Jika pada lazimnya kata-ulang bermakna plural seperti kata-kata, anak-anak, orang-orang, raja-raja maka ada kata-ulang yang berubah makna menjadi sama sekali beda makna dengan kata-dasar yang diulang.

Sim-sala-bim

AYO BACA : Pelantikan Kardinal Suharyo di Vatikan

Kata dasar jangan yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kata yang menyatakan melarang, berarti tidak boleh; hendaknya tidak usah, ternyata apabila diulang menjadi jangan-jangan langsung sim-sala-bim mendadak berubah makna menjadi barangkali atau mungkin.

Kata dasar mata  yang menurut KBBI bermakna indra untuk melihat; indra penglihat; sesuatu yang menyerupai mata (seperti lubang kecil, jala) ; bagian yang tajam pada alat pemotong (pada pisau, kapak, dan sebagainya); sela antara dua baris (pada mistar, derajat, dan sebagainya); tempat tumbuh tunas (pada dahan, ubi, dan sebagainya); sesuatu yang menjadi pusat; yang di tengah-tengah benar; yang terpenting (sumbu, pokok, dan sebagainya) apabila diulang menjadi mata-mata langsung abra-ka-dabra berubah makna menjadi orang yang ditugasi menyelidiki secara diam-diam; agen rahasia; spion ; penyusup ke pihak musuh.

Beda

AYO BACA : Jangan Gebyah-Uyah

Kata-ulang pura-pura yang bermakna sikap yang tidak sesungguhnya sama sekali tidak memiliki keterkaitan makna dengan kata-dasar  pura  yang bermakna bangunan religius seperti Pura Besakih.

Demikian pula kata-ulang laba-laba yang bermakna satwa berkaki delapan yang piawai merajut sarang dengan zat benang yang berasal dari dalam tubuhnya sama sekali tidak ada kaitan dengan kata-dasar laba sebagai lawan kata rugi.  

Sementara kata-dasar bukan sama sekali bukan padanan kata-ulang bukan-bukan sebagai lawan kata jangan-jangan yaitu mustahil alias tidak mungkin.
Kata dasar tiba yang bermakna datang apabila diulang menjadi tiba-tiba bukan bermakna datang berulang kali namun bukan-sulap-bukan-sihir langsung berubah makna menjadi secara mendadak, sekonyong-konyong. Sementara kata-ulang gara-gara yang bermakna sebab; berkat; lantaran (sesuatu yang menjadi penyebab); pertanda sama sekali tidak memiliki keterkaitan makna dengan kata-dasar gara yang malah sama sekali tidak bermakna apapun kecuali jika diselipi kata ha menjadi gahara yang menurut KBBI bermakna keturunan raja yang tulen atau ayah-ibunya anak raja-raja.


Jaya Suprana
Penulis adalah pembelajar keajaiban bahasa

 

AYO BACA : Hentikan Fitnahisasi!

Reporter Admin
Editor Widya Victoria