Kunjungan ini atas ajakan Rency Tikupasang untuk mengikuti open trip bersama Geotrek, untuk nyambung keberadaan saya di Bandung setelah melakukan pendakian bersamanya ke Gunung Pangrango Dan Gunung Gede pada Tanggal 3-5 September 2019 yang lalu. Sekalian biar tidak tanggung.
Sanghyang Heuleut dipercaya sebagai Danau Purba yang konon kabarnya sebagai tempat mandi bidadari, terletak di Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. Saya mah tidak ikutan mandi, biar tetep jadi Yanni saja.
Pagi pukul 06.00 WIB, semua peserta diwajibkan sudah berkumpul di Museum Geologi Bandung. Ada sesi perkenalan antar peserta dan ternyata banyak sekali. Total peserta ada 80 orang, dari usia anak-anak, paling muda 9 tahun, remaja belasan tahun, ada yang seputaran 20-30 tahun, tapi mayoritas usia 45-65 tahun. Pemandangan jarak usia beragam yang luar biasa. Tempatnya seperti apa sih? Koq nampaknya menarik banget.
Setelah masing-masing memperkenalkan diri, ada sedikit penjelasan dari panitia, lalu kami dibagi dalam 3 kelompok, ternyata transportasi sudah disediakan dengan truk Pusat Pendidikan Pembekalan Angkutan Angkatan Darat (Pusdikbekang). Masing-masing dari kami masuk sesuai pengelompokan tadi.
Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai tempat parkir wisata danau ini. Setelah semua turun ada briefing tentang trek, kami diajak bersenam ria untuk melemaskan otot kaki.
Perjalanan kami mulai sekitar pukul 8.30 pagi. Jalanan tanah setapak selebar 0.5 meter, masih datar, mendekati jarak 500 meter, jalan mulai menanjak, berkelok lalu turun, menanjak lagi, turun lagi dan turun lagi lebih curam dan tajam. Untuk itu gunakan sepatu trek atau minimal sandal gunung. Jangan salah kostum ya. Bisa juga bawa trekking pole/tongkat untuk membantu perjalanan.
Jalur menuju danau sepanjang kurang lebih 2 kilometer, pada kilometer pertama di perbukitan tersedia 1 warung jual kelapa muda. Belinya nanti saja, kalau sudah perjalanan pulang. Karena masih pagi.
Sesampainya di lokasi, batu-batunya besar banget, kami mulai melompat dari Batu ke Batu lainnya, untuk menuju danau yang letaknya paling ujung.
Mulailah ambil posisi bergaya, saya dan lima orang lainnya sampai duluan di lokasi. Jadi masih sepi. Lompat kesana kemari, cari posisi yang paling tinggi. Hati-hati ya, ini juga mudah terpeleset.
Di lokasi ini tersedia warung-warung yang menyediakan gorengan, mie instan, kopi-teh dan kawan-kawan sejenisnya.
Setelah puas berfoto diri, rombongan peserta yang lain baru tiba, langsung penuhlah tempat ini. Salut pada bapak dan ibu yang sudah sepuh pun tanpa takut dan sangat bersemangat menyeberangi bebatuan besar dan tinggi. Luar biasa semuanya. Salam hormat dan salut untuk keberanian dan kelincahannya. Ternyata usia memang bukan halangan untuk dijadikan alasan.
Di danau dengan air warna hijau dan tenang ini, pengunjung boleh berenang, kalau minat silahkan persiapkan baju renang dan ganti.
Bisa juga naik di salah satu batuan paling tinggi dan bikin adegan yang sedikit deg-deg an. Saya hanya mencoba naik pada posisi batu itu, disitulah titik untuk lompat terjun dari atas dengan ketinggian sekitar 20 meter. Tersedia pelampung dan ban yang disewakan dengan biaya 10.000an. Tertarik untuk coba? Cobalah agar tahu serunya.
Matahari mulai meninggi, saatnya kami kembali ke tempat parkiran dan makan siang. Baru terasa trek ini cukup melelahkan untuk usia yang sepuh, apalagi kalau tidak terbiasa olah raga, sungguh sedikit menyiksa.
Beruntung pada pertengahan trek ini, di mana tadi saya cerita ada warung, semua peserta harus bisa sampai di titik ini dulu, selanjutnya bisa order ojek loh, ngojek hingga parkiran kendaraan. Sayang saya lupa bertanya berapa biaya ojeknya.
Bersyukur semua peserta dengan cepat bisa sampai di parkiran dan segera makan siang, karena setelah itu ada satu destinasi yang harus kami kunjungi, yaitu Sanghyang Kenit.
Semua sudah kenyang, kamipun masuk dalam kendaraan sesuai dengan kelompok, menuju Sanghyang Kenit yang letaknya tidak jauh dari Sanghyang Heuleut, cukup 30 menit untuk mencapainya.
Kami semua turun dari Truk, jalan lagi sekitar 500 meter, dan sampailah di lokasi. Tersedia warung juga di sini.
Kalau Sanghyang Heuleut bebatuan dengan danau purbanya, di sini berbeda. Sanghyang Kenit lebih kepada aliran sungai yang jernih dengan bebatuan besar dengan tebing-tebing tinggi yang banyak terkikis air dan membentuk cekungan-cekungan mirip Goa pendek. Hati-hati pada musim hujan, mungkin air bisa sangat deras dan tinggi.
Saya melihat satu cekungan Goa sedikit dalam dari kejauhan, saya curiga seperti lorong, mungkin bersambung sampai di mana. Setibanya di rumah saya coba googling, dan ternyata benar, bahwa Sanghyang Kenit ini punya lorong goa sepanjang 300 meter yg nyambung dengan Sanghyang Tikoro. Sayangnya dalam trip ini memang tidak ada tujuan ke sana.
Ada satu cerita dari panitia, kalau kalian menemukan beberapa batu yang nampak bergumpal-gumpal menyatu, maka mulailah mengenalinya, ternyata batu yang seperti itu namanya KONGLOMERAT. Beneran loh itulah namanya. Perjalanan ini memang sangat seru.
Temuilah keindahan di tiap sudut negeri kita yang elok ini. Jangan hanya Gunung. Danau, laut dan pantai pun perlu kita kunjungi. Indonesia memang luar biasa indahnya.
Perjalanan kami berakhir di sini, waktunya kami kembali ke rumah masing-masing.
Yanni Krishnayanni
Pendaki Gunung, Komunitas Swara Ibu Asah Bangsa Indonesia (SIABI)