Dua berita viral tiba tiba saja muncul menghiasi ruang media sosial saat ini. Peristiwa penusukan terhadap Menko Polhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto di Menes, Pandeglang, Banten; versus peristiwa tindak kekurangajaran Arteri Dahlan terhadap Emil Salim yang terjadi di acara Mata Najwa.
Soal penusukan Wiranto, siapapun sepakat bahwa apa yang terjadi merupakan tindak kebiadaban dengan alasan apapun. Tapi yang lebih biadab justru munculnya berbagai komentar pro-kontra yang penuh dengan kenyinyiran.
Fakta realita justru hilang tenggelam ditelan syak wasangka penuh curiga atas peristiwa yang terjadi. Budi nurani kemanusiaan dan nalar akal sehat jadi jumud dan majal dikemas dalam ocehan nyinyir bernada sinikal, satire bahkan sarkastik yang mempertontonkan betapa sesungguhnya bangsa ini telah berubah menjadi bangsa yang biadab.
Berbarengan dengan kasus Wiranto, muncul pula kebiadaban lain yang dipertontonkan oleh Arteri Dahlan (AD) terhadap Emil Salim (ES) yang terjadi di acara Mata Najwa. AD tampil dengan lugas mempertontonkan tindak kekurangajaran dengan memotong pembicaraan yang tengah disampaikan oleh ES.
Tak urung, protes dan kecaman berdatangan dari berbagai penjuru ke alamat AD yang dianggap telah mencederai nilai-nilai kesantunan dan budi pekerti. K
Kecaman datang terutama dari Civitas Akademika Universitas Indonesia dimana Emil Salim diposisikan sebagai Begawan sekaligus tetua adat. IKBUI secara verbal bahkan merasa penting untuk mengecam AD dengan kalimat. "Sampaikan argumen tanpa memotong pembicaraan. Belajarlah mendengar."
Tentu dalam tradisi debat saling memotong pembicaraan itu wajar dan bisa dilakukan antar siapapun tanpa pandang usia, tua atau muda, senior atau yunior.
Mengapa? Karena tradisi debat terlahir dari budaya barat yang liberal dan egaliter. Bahkan dalam keluarga saja sangat dimungkinkan seorang anak mendebat bahkan memaki orang tuanya.
Jadi jikalau kita ingin memprotes ataupun mengecam apa yang dilakukan oleh Arteri Dahlan terhadap Emil Salim, maka tentu sepatutnya kita tidak bisa menggunakan standar ganda.
Di satu sisi kita memprotes perlakuan AD terhadap ES tapi di sisi lain kita membiarkan acara debat kandidat diperdengarkan dalam ruang-ruang kontestasi politik untuk berebut menjadi yang paling benar. Juga jangan kita mengajari anak kita untuk terbiasa berdebat terhadap kita sebagai orang tuanya.
Menjadi kritis itu sungguh suatu keniscayaan yang terpikul dan memikul natur kemanusiaan. Namun sikap kritis tidak berarti harus sama dengan menjadi pemberontak.
Kembalikan interaksi kemanusiaan dalam adab dan adat tradisi Nusantara yang saling asih, saling asah dan saling asuh. Yang tua menyayangi yang muda, yang muda menghormati yang tua, dalam suasana guyub rukun penuh dengan welas asih.
Kita bertukar pikiran dan menajamkan gagasan dalam musyawarah-mufakat untuk mencari solusi bersama atas berbagai persoalan bertanah air, berbangsa dan bernegara. Sama sekali bukan untuk main menang2an, kuat2an dan hebat2an.
Mari kita gunakan kembali ilmu padi, semakin berisi, semakin merunduk.
Ing ngarso sung tulodo
ing madyo mangun karso
Tut wuri handayani
Salam Peradaban!!!
Mahendra Uttunggadewa
Pengamat dan Penggiat Budaya