Bergaya bak anak muda, kami empat wanita pendaki yang terdiri dari Hilda (52), Herawati (49) Onaria (49), dan Yanni (49), memang selalu tampil penuh gaya kendati usia terus bertambah. Bagi kami kemudaan itu jangan sampai hilang ketika melakukan aktivitas mendaki gunung.
Perjalanan saat itu baru kami mulai sekitar pukul 15.00 via Base Camp Mawar yang terletak di kaki Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Ketika mulai jalan dari pos pendakian, kami temukan deretan warung, ada beberapa spot foto dan camping ground di seputaran itu. Ada banyak tenda kami jumpai. Cucok banget buat keluarga yang punya anak-anak kecil untuk pengenalan alam.
Kami persiapkan bekal dan membeli beberapa botol air di warung. Kami jalan sangat santai melalui pos I di mana jalan masih datar-datar saja. Mendekati pos II, ada sungai yang harus kami lewati. Di sini kita bisa ambil air bila mau. Airnya bening sejuk dan segar, kami berhenti di Pos ini di mana ada dua jalur, kalau kita ambil arah kanan maka akan melewati kebun teh, tapi kami sepakat memilih jalur di belakang pos yang menanjak. Istilah kerennya potong kompas, atau jalur lama.
Jalur ini meski menanjak lumayan rindang sehingga nyaman. Saya seperti biasa tengak-tengok mungkin menemukan bunga indah. Ternyata tidak ditemukan yang unik dan indah.
Sepanjang jalan kami hanya ngobrol tertawa riang gembira, yang penting kami tetap ingat tujuan bersama, yaitu mau ke Puncak Gunung Ungaran, mau ngecamp dan menikmati perjalanan dengan semua prosesnya bersama-sama.
Sampailah kami di Pos 3, berhenti sejenak lalu lanjut lagi, jalan menanjak tipis, kadang masih ketemu bonus jalan datar. Dari Pos 3 menuju pos 4 makin rindang (semoga hutan di gunung ini bisa tetap terjaga) dalam perjalanan ini kami masih menjumpai monyet loh (saudara tua kita). Bersyukur habitat masih terjaga.
Tidak lama kemudian sampailah di Pos 4, ada shelter cukup besar. Di Pos ini juga sering dibuat ngecamp, terlindungi dari angin.
Perjalanan kami lanjutkan, daaan.....taraaaa, I like it. Jalur mulai menunjukkan keasliannya, nanjak penuh batu besar, di mana langkah mulai penuh kehati-hatian.
Terlihat dari kejauhan ada gundukan sedikit tinggi. Hari mulai sedikit gelap, pastinya kemalaman karena start pukul 15.00 dengan estimasi yang ada di peta memang 5 jam. Kami pikir itu adalah puncaknya, Aaah...., ternyata bukan, itu hanya bayangan, di bukit ini bisa digunakan sebagai tempat ngecamp, bisa menampung cukup banyak tenda.
Angin mulai terasa dingin, kabut pun ikut menghampiri. Kami tetap berjalan mencoba bertahan dengan mata telanjang, karena senter-senter belum kami keluarkan. Naik lagi, di sini terdengar banyak obrolan dari pendaki. Ternyata di bagian sebelah kiri itu tempat mendirikan tenda, mungkin bisa menampung lebih dari sepuluh tenda. Kami tidak bergabung dengan mereka, karena kami ingin ngecamp yang terdekat dengan puncak gunung.
Perjalanan pun kami lanjutkan. Sempat juga kami bertanya-tanya, puncaknya itu sebelah mana sih sebetulnya? Masih jauh kah? Karena gelap tidak tampak, dan belum pernah, maka timbul banyak tanya karena efek lelah. Dan ternyata tidak jauh, 30 menit kemudian akhirnya kami sampai di tujuan.
Horeee....! Sampai juga di puncak, selamat untuk kami berempat.
Mungkin ada teman-teman lain yang mampu mencapai dengan cepat dan tektok, karena hanya membawa ransel daypack. Tapi kami mah memang jalan seperti siput, menikmati senikmat-nikmatnya suasana perjalanan.
Angin cukup kencang dan dingin, dengan segera kami buka tenda di depan tugu puncak, bebersih diri, makan bersama dan minum kehangatan, eeh..., minum yang hangat-hangat sembari ngobrol dalam suasana penuh kehangatan.
Berjalan sejauh dan sesulit apapun, bila kita sehati, sepikiran, saling membantu, saling menguatkan, tetap gembira maka yang terasa hanya indahnya dan perasaan bahagia.
Makasih untuk sahabat-sahabat seperjalanan yang selalu akan kurindukan dalam komunitas Swara Ibu Asah Bangsa Indonesia (SIABI).
Yanni Krishnayanni
Pendaki wanita, salah satu pendiri Swara Ibu Asah Bangsa Indonesia (SIABI)