Netizen

Memilih ‘Telework’ agar Tak Tua di Jalan

Oleh: Admin Kamis 02 Mei 2019, 07:26 WIB
Ilustrasi Kemacetan

KEMAJUAN dalam sektor teknologi informasi dan komunikasi perlu dimanfaatkan untuk menyeimbangkan antara urusan kantor dengan kehidupan keluarga.

Di masa ketika horor kemacetan kian membelit kota-kota kita saat ini, perjalanan dari rumah menuju kantor maupun perjalanan pulang dari kantor menuju rumah boleh jadi menjadi momen yang sangat melelahkan dan sangat menyiksa.

Berangkat pagi, pulang petang, bahkan hingga malam hari, menjadi hal yang tak terelakkan. Jatah waktu untuk keluarga semakin menyusut. Kita lebih banyak menghabiskan waktu di jalan dan di kantor.

Buntutnya, kita kesulitan menyeimbangkan kehidupan kita. Urusan kantor dan urusan keluarga menjadi njomplang. Sebuah survei yang dilakukan oleh Public Policy Polling (PPP),-- sebuah lembaga jajak pendapat yang berbasis di Raleigh, North Carolina, Amerika Serikat -- menunjukkan bahwa 76 persen responden menyatakan bahwa urusan kantor cenderung tidak memberikan peluang yang memadai bagi para pekerja dalam hal ikut menyimbangkan kehidupan keluarga mereka.

Kondisi tersebut tentu kurang baik jika terus dibiarkan. Hidup bukan melulu urusan kantor dan pekerjaan. Ada urusan-urusan lainnya, yang juga perlu mendapat porsi perhatian kita.

Nah, dalam upaya untuk menyeimbangkan antara urusan kantor dengan urusan rumahtangga inilah sistem telework, dengan memanfaatkan kehadiran teknologi informasi dan komunikasi, agaknya bisa menjadi salah satu solusi.

Secara sederhana, istilah telework merujuk kepada kemampuan seseorang untuk bekerja dari tempat tinggalnya, bekerja dari rumahnya. Dengan bekal sejumlah perangkat pintar mutakhir, mereka yang melakukan telework sama sekali tidak perlu harus pergi-pulang kantor tiap hari. Ia melakukan tugas-tugasnya cukup dari tempat tinggalnya.

Salah satu keuntungan pekerja yang melakukan telework yaitu memiliki waktu yang lebih efektif untuk bekerja karena tidak memerlukan waktu tempuh perjalanan pergi-pulang kantor yang mungkin sangat melelahkan.

Selain itu, pekerja yang melakukan telework bakal terbebas dari ancaman stres dan depresi yang diakibatkan oleh kemacetan lalu-lintas. Keuntungan lainnya, mereka dapat menghemat anggaran karena tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi serta lebih dapat memelihara kedekatan dengan anggota keluarga sehingga kualitas interaksi dengan keluarga bisa dicapai dengan maksimal. Porsi waktu untuk urusan kantor dan urusan keluarga menjadi seimbang. Dengan begitu, ini pada gilirannya akan kian meningkatkan keharmonisan keluarga.

Dari aspek lingkungan, apabila semakin banyak pekerja yang bisa melakukan telework, maka akan semakin mengurangi kemacetan lalu-lintas. Berkurangnya kemacetan lalu-lintas akan mengurangi tingkat pencemaran udara. Andai saja seperempat dari jumlah total pekerja yang bekerja di kota-kota besar kita mampu melakukan telework, paling tidak ini akan ikut menurunkan tingkat kesibukan di jalanan, yang berarti ikut pula menurunkan tingkat kemacetan lalu-lintas dan menurunkan tingkat pencemaran udara dan juga pencemaran suara.

Sementara itu, perusahaan yang menerapkan telework bagi para pekerjanya dapat memperoleh keuntungan antara lain berupa peningkatan produktivitas kerja. Sejumlah kajian menunjukkan, perusahan-perusahaan yang menerapkan sistem telework mengalami rata-rata peningkatan produktivitas hingga 20 persen.

Pada saat yang sama, selain mengurangi tingkat kemangkiran karyawan, telework juga memungkinkan perusahaan membuat sejumlah penghematan dan mengurangi pengeluaran yang tidak perlu seperti penghematan biaya listrik dan air, sewa gedung maupun lahan parkir.

Mempertimbangkan manfaatnya, di sejumlah kota di luar negeri, sistem telework telah menjadi bagian yang menyatu dengan kebijakan pemerintah kota dalam ikhtiar mengatasi masalah kemacetan lalu-lintas serta masalah pencemaran udara.

DJOKO SUBINARTO

Reporter Admin
Editor Rizma Riyandi