AYO BACA : 9
“It is impossible to live without failing at something, unless you live so cautiously that you might as well not have lived at all, in which case you have failed by default.”
\n
\n-JK Rowling
\n
\nAYO, semangat! Cuma menemui kesulitan kecil saja langsung putus asa. Baru gagal dua atau tiga kali saja sudah langsung loyo. Apa kata dunia? Bukankah jarak kegagalan dan kesuksesan itu sesungguhnya sangatlah tipis? Kata pepatah, kegagalan itu sesungguhnya kesuksesan yang tertunda.
\n
\nMaka, jika Anda selama ini selalu gagal dalam upaya menggapai apa yang Anda cita-citakan, apa yang Anda impi-impikan, janganlah buru-buru berputus asa dan berhenti berupaya. Nenek kita bilang, banyak jalan untuk menuju Kota Roma. Itu artinya pula, banyak jalan untuk menuju sebuah keberhasilan.
\n
\nSejarah perjalanan peradaban umat manusia dipenuhi oleh kisah-kisah kegagalan dari mereka yang akhirnya kita kenal sebagai orang-orang sukses di bidangnya dan sekaligus menorehkan sejarah gemilang serta memberi pengaruh besar bagi kemajuan umat manusia.
\n
\nBanyak dari tokoh besar dan berhasil di bidangnya itu semula adalah orang yang dikategorikan sebagai nobody alias bukan siapa-siapa. Sebagian di antaranya bahkan pernah dicap sebagai orang idiot, gila, tolol, dungu, tidak berbakat, tidak kreatif serta mendapat cemoohan yang sangat merendahkan diri. Namun, dengan perjuangan yang gigih dan kerja keras pantang menyerah, ujungnya mereka malah menjadi seseorang yang demikian berhasil.
\n
\nAmbil contoh yaitu Ludwig van Beethoven (lahir di Bonn, Jerman, 16 Desember 1770) yang merupakan salah satu tokoh besar dan sangat berpengaruh dalam kacah musik klasik. Karya-karyanya di antaranya mencangkup 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano konserto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek, musik vokal dan musik opera.
\n
\nBakat musik Beethoven yang luar biasa bisa jadi diturunkan dari sang ayah, Johan van Beethoven, yang merupakan seorang penyanyi tenor dan juga sebagai guru piano dan biola. Beethoven kecil mengenal dan belajar musik pertama kali dari sang ayah yang mengajarinya bermain piano.
\n
\nBarulah ketika mulai beranjak dewasa, Beethoven mulai belajar musik dari guru lain, yaitu Christian Gottlob Neefe. Neefe inilah yang menjadi orang pertama yang mengajari Beethoven bagaimana menggubah sebuah komposisi musik. Lewat bantuan tangan Neefe ini juga Beethoven menyelesaikan karya pertamanya berupa variasi komposisi musik untuk organ.
\n
\nNamun, di tengah bakat luar biasa yang sedang ditunjukkannya, Beethoven mengalami cobaan berat. Memasuki usia 20, pendengarannya mulai terganggu. Padahal, bagi seorang musisi, pendengaran adalah salah satu indera sangat penting.
\n
\nIroninya, gangguan pendengaran yang dialami Beethoven dari hari ke hari bukannya membaik, namun malah semakin buruk. Puncaknya adalah saat ia harus menghadapi kenyataan dirinya mengalami tuli total. Apakah Beethoven menyerah?
\n
\nTidak sama sekali. Ketulian yang dialaminya tidak menjadi penghalang bagi Beethoven untuk berkarya. Ia senantiasa berusaha menaklukan penghalang dirinya tersebut. Kecintaannya terhadap musik dan motivasi dirinya yang sangat tinggi mengalahkan segala keterbatasannya.
\n
\nDalam kondisi tuli total -- dan tentu dengan sangat susah payah -- ia terus mencipta berbagai komposisi musik. Ketulian yang menimpanya sama sekali tidak mampu mengalahkan semangatnya untuk menghasilkan karya musik terbaik. Faktanya, sebagian besar karya masterpiece Beethoven justru tercipta pada saat ia telah mengalami tuli total.
\n
\nKegigihan Rowling
\n
\nSelain dari Beethoven, kita juga bisa belajar dari kegigihan JK Rowling. Jujur saja, banyak orang kagum dengan kesuksesan yang telah diraup Rowling dengan buku Harry Potter-nya. Bisa jadi pula banyak orang kagum dengan bakat yang dimiliki JK Rowling sebagai kreator Harry Potter.
\n
\nAkan tetapi, andai JK Rowling hanya dikaruniai bakat menulis semata, tanpa diberi tekad kuat dan kesabaran lebih, niscaya tidak akan pernah ada Harry Potter dan tidak akan pernah ada penulis mashur bernama JK Rowling.
\n
\nSebelum menjadi mashur dan kaya raya seperti sekarang ini, JK Rowling bertahun-tahun lamanya menjalani kehidupan serba sulit -- menjadi orangtua tunggal, tanpa pekerjaan dan tanpa uang. Perempuan kelahiran 31 Juli 1965 ini bahkan untuk beberapa waktu lamanya harus mendapatkan santunan khusus dari pemerintah Inggris, karena termasuk dalam kategori sebagai orang miskin yang layak mendapat santunan.
\n
\nKendati ia memiliki bakat dan minat besar dalam menulis, perjalanan awal untuk memasuki dunia kepenulisan tidak bisa dibilang mudah. Kisah Harry Potter yang ditulisnya, setelah mendapat ilham dalam sebuah perjalanan kereta api, ternyata tidak langsung begitu saja diterima oleh penerbit. Berkali-kali Rowling menyodorkan naskah itu ke penerbit, berkali-kali pula ia mengalami penolakan.
\n
\nLima tahun lamanya Rowling setidaknya harus sabar berjuang menyodor-nyodorkan naskah Harry Potter ini sampai akhirnya seorang agen sebuah penerbit mau membantunya untuk menerbitkan naskah Harry Potter karyanya.
\n
\nAjaibnya, begitu diterbitkan, buku karya Rowling itu langsung laku keras di pasaran. Dampaknya, Rowling pun menerima sejumlah penghargaan bergengsi. Seperti kisah fiksi, kehidupan Rowling berubah drastis, dari sosok perempuan miskin-papa menjadi perempuan mashur berlimpah harta. Di sisi lain, tokoh Harry Potter yang diciptakannya menyihir jutaan orang dari berbagai generasi di seantero dunia. Tekad kuat dan kesabaran yang luar biasa tampaknya telah membantu Rowling menjadi sosok hebat seperti sekarang ini.
\n
\nDJOKO SUBINARTO