News

Mengenal Cemara, Pohon yang Identik dengan Natal, Makna Kerohanian yang Sakral

Oleh: Karseno AJ Jumat 02 Des 2022, 16:35 WIB
Mengenal Cemara, Pohon Perlambang Natal yang Mengandung Nilai-Nilai Tri Tunggal serta Kerohanian yang Sakral.

AYOJAKARTA.COM – Suasana menjelang perayaan Natal terlihat semakin ketara di sejumlah tempat.

Selain di tempat-tempat ibadat umat Nasrani, persiapan Natal juga terlihat di sejumlah perkantoran dan pusat perbelanjaan. Bahkan mengenal makna pohon natal di rumah.

Geliat perayaan menyambut Natal tersebut dapat dengan mudah tertangkap mata dengan berdirinya sosok Pohon Cemara.

Baca Juga: Siap-siap! Simak Alur Seleksi CPNS 2023, Jangan Sampai Terlewat

Meski di tempat-tempat tersebut tidak seluruhnya menggunakan pohon cemara yang sesungguhnya.

Tetapi semangat, gelora serta antusiasme umat nasrani dalam menyambut natal tetap tidak berkurang sedikitpun.

Terlebih pada malam hari, kerlap-kerlip cahaya aneka warna dan ornamen hiasan semakin memperindah tampilan cemara.

Akan tetapi, dibalik tegak tingginya pohon tersebut masih belum banyak orang yang mengetahui sejarah mengapa cemara dipilih menjadi pohon natal.

Baca Juga: Siap-Siap Rekrutmen CPNS 2023, KemenPANRB Pastikan Dua Formasi Ini Jadi Prioritas

Sejarah pohon natal sendiri berasal dari St. Bonifasius yang hidup pada tahun 675 sampai dengan 754.

Sebelumnya, St. Bonifasius yang lahir dari keluarga Kristen ini juga dikenal dengan nama Winfrid.

Sejak kecil Ayah Winfrid sering kedatangan tamu para misionaris yang menceritakan tentang pengalamannya.

Cerita-cerita tersebut menginspirasi Winfrid kecil untuk kemudian mengikuti jejak para sahabat ayahnya.

Baca Juga: Contoh Soal TWK SKD CPNS 2023 Beserta Jawabannya, Simak Sampai Tuntas!

Ketika beranjak dewasa Winfrid bergabung ke biara Nursling, dan pada usia 30 ia menjadi Imam di Frista.

Ketika pergi ke Roma, Windfrid diterima oleh Paus Gregorius II yang memberinya nama Bonifasius, berarti mujur.

Di tahun 722, Winfrid diangkat sebagai uskup dengan wilayah yurisdiksi seluruh wilayah Jerman, ia menemani jemaatnya selama 15 tahun.

Ketika Winfrid pergi ke Roma, para jemaatnya mulai kembali ke kebiasaan lama yaitu memberi sesembahan ke pohon Oak yang dianggap tempat para Dewa bersemayam.

Baca Juga: Naruto 17.12.22: Penonton Terkena Genjutsu, Serial Boruto Hanyalah Mimpi dalam Mugen Tsukoyomi?

Winfrid kemudian menebang pohon Oak tersebut dan menggantinya dengan Fir atau Cemara yang selalu dipenuhi dedaunan hijau, berbentuk segitiga meruncing dan tinggi.

“Pohon ini adalah kayu kedamaian, rumahmu dibangun dari pohon cemara dan menunjuk ke atas,” jelas Bonifasius kepada jemaatnya.

Daun hijau adalah simbol keabadian, segitiga adalah kunci rahasia dari misteri Tritunggal, dan pucuk yang menjulang adalah simbol perjalanan ke surga.

Demikian seperti dikutip Ayojakarta dari kanal Youtube Magnificat Channel pada Jumat, 2 Desember 2022. ***

Reporter Karseno AJ
Editor Vincensia Enggar Larasati