News

Tragedi Serupa Meninggalnya Keluarga Kalideres Ternyata Hal Legal, Simak Dokumenternya

Oleh: Awit Wiarni Kamis 24 Nov 2022, 19:34 WIB
Tragedi Serupa Meninggalnya Keluarga Kalideres Ternyata Hal Legal, Simak Dokumenternya

AYOJAKARTA.COM – Kasus meninggalnya satu keluarga di Kalideres masih diselidiki motifnya oleh pihak berwajib, diduga satu keluarga tersebut menganut aliran tertentu.

Setelah kasus autopsi keempat anggota keluarga Kalideres, tidak ditemukan sisa makanan di dalam lambung para korban. Hal ini berarti mereka sudah cukup lama tidak mengkonsumsi makanan.

Maka muncullah teori-teori sebagai dugaan kematian keempat orang anggota keluarga yang ditemukan tewas di dalam sebuah rumah di Kalideres.

Baca Juga: Gacor! Masih 18 Tahun Pablo Gavi Jadi Pencetak Gol Termuda Usai Menang Telak Atas Kosta Rika

Dilansir AyoJakarta.com dari akun Twitter @HabisNontonFilm, salah satu teori terjadinya kasus ini adalah adanya Voluntarily Stopping Eating & Drinking (VSED).

Ternyata terdapat kasus kematian serupa yang bahkan dibuatkan dokumenternya dengan judul ROSEMARY BOWEN’S FAST.

Dokumenter ini tersedia di kanal YouTube dengan durasi 16 menit. Di dalam video mendokumentasikan proses Rosemary berpuasa hingga meninggal dalam waktu 7 hari.

Video dibuat oleh putrinya sendiri yang masih terus menjaga dan merawat ibunya sampai ajal, hal ini sama dengan kasus kematian keluarga kalideres.

Baca Juga: Viral Google Maps Gunakan Unta Berkamera di Gurun Pasir, Warganet Ngakak : Bakal Ada Waktu Tempuh dengan Unta

Diketahui bahwa korban meninggal pada keluarga kalideres adalah suami istri Rudyanto Gunawan (71 tahun) dan Renny Margaretha Gunawan (68 tahun), anaknya yaitu Dian Febbyana Apsari Dewi (42 tahun) kemudian yang terakhir adik dari Rudyanto yaitu Budyanto Gunawan (69 tahun).

Pada kasus kematian yang terjadi di Kalideres, sang ibu yaitu Renny dipergoki sudah meninggal di dalam kamar oleh saksi, tetapi anaknya yaitu Dian masih merawat mayatnya.

Rosemary sudah menyampaikan niat untuk bunuh diri kepada anak-anaknya sejak usia 70an. Keputusannya ini tentu ditolak oleh anak-anaknya pada awalnya.

Menurur Rosemary, pada usianya yang sudah senja dia sudah tidak bisa lagi hidup mandiri dan mengurus kehidupannya sendiri, jadi lebih baik mempercepat kematiannya dengan cara VSED.

Baca Juga: Squad Timnas Kosta Rika Teraniaya Sewaktu Timnas Spanyol Memaksa Bertahan di Skor Nol Piala Dunia 2022 Qatar

Rosemary masih sehat sampai usia 90an tapi kemudian menderita osteoporosis yang membuatnya lumpuh. Dengan begitu ia merasa sudah waktunya untuk mengakhiri hidupnya.

Pada awalnya anak-anak dari Rosemary menginginkan ibunya untuk bertahan dan bisa sembuh dengan cara memberikan perawatan terbaik.

Perawatan yang dilakukan oleh anak-anaknya ini ternyata sempat membuat Rosemary memiliki harapan untuk hidup lebih lama.

Namun karena Rosemary sudah tidak bisa hidup secara mandiri lagi maka dirinya tetap ingin mempercepat kematiannya.

Baca Juga: Hubungan Krishna Murti dan Ferdy Sambo Diisukan Sedang Memanas, Viral Momen Ngakak yang Menyeret Nama Keduanya

Ia merasa hidupnya sudah cukup bahagia, sudah waktunya mengakhiri hidupnya ketika ia mulai bergantung pada orang lain.

Rosemary memutuskan ingin mengkonsumsi obat yang bisa mempercepat kematian. Tapi obat ini tidak bisa diberikan oleh tim medis

Ini hanya obat untuk orang-orang yang mengidap penyakit terminal dan usianya sudah divonis kurang dari 6 bulan.

Pada akhirnya Rosemary menjalani VSED selama 7 hari didampingi oleh putrinya. Jadi puasa ekstrim yang dilakukan seseorang tidak selamanya berkaitan dengan sebuah aliran atau sekte.

Mengejutnya adalah proses mempercepat kematian secara VSED ternyata hal yang ilegal di beberapa negara.***

Reporter Awit Wiarni
Editor Vincensia Enggar Larasati