AYOJAKARTA.COM - Tragedi sepak bola di Kanjuruhan terjadi pada 1 Oktober 2022.
Namun autopsi korban baru dilakukan sebulan setelahnya yaitu pada 5 November 2022.
Tragedi Kanjuruhan yang memakan 135 korban jiwa dan ratusan korban luka-luka masih diusut untuk mendapatkan kebenaran penyebab korban meninggal.
Salah satu tindakan yang dilakukan adalah autopsi terhadap korban.
Dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Kompas TV pada Senin (7/11/2022), autopsi korban Kanjuruhan dilakukan kepada dua putri dari Devi Athok yaitu NBR (16 tahun) dan NDA (13 tahun).
Baca Juga: Imbas Tragedi 1 Oktober 2022 yang Tewaskan Ratusan Orang, Stadion Kanjuruhan akan Dirobohkan
Ayah korban telah mengajukan autopsi untuk kedua putrinya karena yakin bahwa mereka meninggal karena keracunan gas air mata, bukan karena berdesakan.
“Kalo disebabkan karena kekurangan oksigen saya membantah bu. Saya tidak terima kalau dibilang penyebab anak saya kehabisan oksigen dan diinjak-injak. Ini karena gas air mata,” tegas Devi.
Pada 1 Oktober 2022 saat Arema FC bertanding melawan Persebaya, terjadi kepanikan suporter akibat gas air mata yang polisi lontarkan ke tribun penonton.
Kejadian ini mengakibatkan 135 suporter meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka.
Baca Juga: Update Tragedi Kanjuruhan, Polisi Gelar Otopsi 2 Jenazah Suporter Arema Asal Bululawang
Proses autopsi dipimpin langsung oleh ketua Perhimpunan Dokter Forensik Indonesia (PDFI) cabang Jawa Timur yaitu dokter Nabil Bahasuan.
Nabil mengatakan bahwa PDFI Jatim membentuk tim independen yang terdiri dari dua penasihat dan enam operator.
PDFI membentuk tim dari tiga elemen institusi pendidikan yaitu Universitas Hang Tuah, Universitas Airlangga dan Universitas Muhammadiyah Malang serta melibatkan empat fasilitas kesehatan yaitu RSUD Kanjuruhan Kabupaten Malang, RSUD Dokter Sutomo Surabaya, RSUD Syarifah Bangkalan, dan RS Pendidikan Unair.
Proses ekshumasi atau penggalian kembali jenazah yang sudah dikubur dilakukan di Pemakaman Umum Dusun Patuk, Desa Sukolilo, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Devi Athok selaku ayah dari dua korban Kanjuruhan yang sedang dalam proses autopsi tak kuasa menahan tangis melihat kedua jasad putrinya.
Devi berharap hasil autopsi bisa menjadi titik terang terkait penyebab kematian putrinya dan ratusan korban lainnya.
Saat diminta keterangan kenapa Devi mengajukan autopsi untuk kedua putrinya, Devi menjawab bahwa ingin mendapat jawaban pasti penyebab kematian mereka.
“Ya karena ingin tahu penyebab kematian dari anak saya, ya kan kematian yang janggal itu loh bu karena gas air mata. Gas air matanya kadaluarsa dan keadaan anak saya membengkak biru, keluar darah dari hidung, keluar busa,” jelas Devi.
Hal ini dibenarkan oleh anggota TGIPF Irjen Armen Wijaya, bahwa ada isu yang beredar kematian korban Kanjuruhan salah satunya adalah karena gas air mata yang sudah kadaluarsa.
“Menurut isu yang berkembang, penyebab kematian korban salah satunya adalah gas air mata. Telah ditemukan juga ada gas air mata yang kadaluarsa. Kita harapkan dari autopsi ini semuanya itu bisa jelas terang benderang, apakah betul seperti itu,” kata Armen Wijaya.***