AYOJAKARTA.COM - Keluarga Brigadir J atau Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat mengaku di hadapan Majelis Hakim bahwa alat komunikasinya sempat diretas setelah pembunuhan tersebut mencuat ke permukaan.
Terkait motif pelaku yakni Ferdy Sambo yang dengan tega menghabisi nyawa ajudannya, Brigadir Yosua di rumahnya sendiri masih menjadi misteri.
Dalam persidangan yang digelar pada Kamis(3/11/2022) kemarin, keluarga Brigadir Yosua dihadirkan sebagai saksi.
Rosti Simanjuntak ibunda dari Yosua mengaku setelah putranya meninggal, alat komunikasi berupa handphone keluarga sempat diretas dan tidak dapat diakses.
Dirinya menjelaskan ketika itu Hendra Kurniawan bersama tim lain yang diutus Ferdy Sambo untuk mengantarkan jenazah anaknya ke Jambi, tidak dapat menjelaskan dan menunjukan sebab kematian dari Brigadir J.
“Menambahkan sedikit atas kehadiran rombongan Pak Hendra bersama rombongan lainya yang berpakaian sipil atau penyidik dari Bareskrim, mereka menyuruh kami untuk mengetahui bukti itu harus datang ke Jakarta,” ujar Rosti Simanjuntak dikutip ayojakarta.com dari YouTube Kompas TV pada (04/11/2022).
“Sedangkan, saya sebagai ibu begitu hancur hati, memohon berulang kali buktikan secara sah jangan cuma omongan doang, hasbul saya bilang,” ujarnya.
Meski sudah memohon kepada semua polisi yang mengantarkan jenazah Brigadir J untuk menunjukkan bukti alasan di balik meninggalnya Yosua di kediaman Ferdy Sambo, Rosti Simanjuntak tetap tak mendapat jawaban.
Rombongan Hendra Kurniawan hanya dapat membisu di hadapan keluarga besar Brigadir J.
Ibunda Yosua juga sempat mengaku kesal dan marah kepada rombongan yang diutus Ferdy Sambo tersebut.
Pasalnya Ferdy Sambo yang merupakan atasan Brigadir J tidak memberikan kabar atau informasi terkait peristiwa tersebut kepada keluarga.
“Karena kesalnya saya, anak saya sudah dibunuh begitu sadisnya tanpa ada pemberitahuan dari atasannya ataupun dari rombongan Pak Ferdy Sambo, karena kami pernah menghubungi mereka langsung nomor kamu diblokir yang ada di rumah itu," terangnya.
Padahal Rosti Simanjuntak yang merupakan ibu dari mendiang Yosua merasa sangat hancur mengetahui putranya meninggal di kediaman atasannya tanpa alasan yang jelas.
“Saya sebagai ibu yang kehilangan anak memang langsung marah, kamu seorang jenderal tidak usah banyak bicara, karena saya yang melahirkan anakku, saya yang mendidik anakku dan saya yang membesarkan anakku, saya tahu dengan karakter anakku,” katanya.
“Kalau benar anakku harus meninggal di rumah atasannya, seharusnya sebagai penegak hukum akan menginformasikan kepada memberitahukan kami bahwa itu adalah anak buahnya,” tandas Rosti.***