AYOKARTA.COM— BRI Liga 1 pekan ke 11 antara Arema vs Persebaya, Sabtu (1/10/2022) di stadion Kanjuruhan Jalan Trunojoyo, Krajan, kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang berakhir tragis.
Pertandingan yang awalnya berjalan aman dan lancar itu, justru berakhir mengerikan dengan banyak korban bertumbangan. Bahkan korban jiwa disebut sampai ratusan orang.
Baca Juga: Nikita Mirzani Kembali Sindir Najwa Shihab: Ternyata Bestie Butuh Polisi
Banyak video bertebaran di media sosial, berisi tragedi di dalam stadion Kanjuruhan tersebut. Diduga video tersebut berasal dari rekaman para suporter ataupun penonton yang menyaksikan petandingan itu.
Selain video juga muncul kesaksian diungkap oleh penonton yang selamat dari tragedi berdarah itu. Mereka menuliskannya di twitter maupun Instagram.
Salah satunya adalah cuitan di akun twitter @RezqiWahyu_05, ia menceritakan kronologi insiden tersebut. Ia datang hendak menonton big match tersebut.
Ia menuliskan pada awal pertandingan, ketika ia memasuki stadion semua berjalan dengan aman tanpa kericuhan sedikitpun.
Ia hanya mendengar supporter Arema yang saling melontarkan psywar ke arah pemain persebaya saja, tak ada kericuhan.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Kerap Bikin Konten YouTube, Asli atau Settingan? Ini Faktanya
Keributan dilihatnya mulai nampak ketika babak pertama usai dan memasuki jeda istirahat. Pertama kali keributan ada di tribun 12-13.
Namun, kericuhan ini berhasil dikendalikan dan diamankan oleh pihak berwenang.
Pada babak kedua, tim Persebaya berhasil mencetak gol ketiganya. Di sisi lain, Arema FC tampil menyerang dan menggempur gawang Persebaya tanpa adanya gol yang tercipta.
Hingga pada peluit akhir dibunyikan, Arema tidak bisa menambah golnya dan harus menerima kekalahan, tragedi dimulai dari sini.
Realita kekalahan ini membuat para pemain yang tertunduk lesu dan kecewa, pelatih dan manager mendekati tribun timur dan meminta maaf dengan menunjukkan gestur.
Mendadak, seorang suporter datang mendekat dari arah tribun selatan, yang nekat masuk dan mendekati pemain yaitu Sergio Silva dan Maringa.
Suporter tersebut nampak memberikan motivasi dan kritik kepada pemain Arema tersebut.
Dari situ, kemudian ada beberapa oknum suporter yang ikut masuk dan memberikan luapan kekecewaan mereka kepada pemain Arema.
John Alfarizie nampak memberikan pengertian kepada oknum-oknum yang mendekat tersebut.
Namun, ternyata semakin banyak dari mereka yang berdatangan dan membuat kondisi semakin ricuh.
Dari berbagai sisi stadion, para suporter nampak ikut masuk untuk mengungkapkan kekecewaan mereka.
Tak hanya itu saja, benda-benda kemudian mulai dilempar ke arah lapangan dan suporter menjadi tidak terkendali.
Demi keamanan, pihak keamanan akhirnya menggiring pemain ke dalam ruang ganti. Dengan pengawalan ketat pihak berwajib.
Baca Juga: Persib Bandung vs Persija Jakarta 2 Oktober di GBLA, Simak Syarat, Cara Pembelian dan Harga Tiket
Pihak aparat kemudian melakukan berbagai upaya guna memukul mundur para suporter.
Menurut penulis dalam utasnya, dilihat perlakuan aparat terhadap suporter sangat kejam dan sadis.
Ada yang melakukan pemukulan dengan tongkat panjang, pengeroyokan oleh aparat, hantaman tameng, dan banyak tindakan lainnya.
Polisi nampak hendak berhasil memukul mundur suporter di sisi selatan, namun mendadak supporter di sisi utara kemudian menyerang.
Dari sini, kemudian semakin banyak suporter yang masuk ke lapangan dan kondisi menjadi tidak kondusif.
Baca Juga: Persija Latihan Super Ekstra Jelang Hadapi Persib, Siap Sabet 3 Poin!
Aparat memutuskan menembakkan beberapa gas air mata ke arah suporter yang ada di lapangan, lalu berganti suporter yang menyerang aparat dari sisi selatan dan utara.
Pada akhirnya, terjadi aksi tembak-tembakan gas air mata ke arah suporter serta hujan lemparan benda dari sisi tribun.
Para supporter yang panik karena tembakan gas air mata, kemudian membuat keadaan tribun semakin ricuh.
Mereka berlarian mencari pintu keluar, sayangnya semua pintu sudah penuh dan sesak karena semua orang panik akan serangan gas air mata.
Disebutkan bahwa dalam insiden tersebut juga banyak ibu-ibu, wanita, orang tua, dan anak kecil yang terlihat sesak tak berdaya. Mereka sesak karena terkena gas air mata, namun juga tak bisa keluar stadion karena pintu keluar semuanya penuh dan macet.
Baca Juga: Setelah Diduga Pernah jadi Gigolo, Rizky Billar Kini Disebut Sudah Punya Anak dari Tante-tante Salon
Begitu sampai di luar stadion, banyak orang yang terkapar dan pingsan karena telah terjebak di dalam stadion yang penuh gas air mata.
Sekitar pukul 22.30, disebutkan masih banyak insiden pelemparan batu ke arah mobil aparat dan pengeroyokan suporter terhadap aparat.
Mereka menganggap aparat mengurung para supporter di dalam stadion dengan puluhan gas air mata, serta kemudian terjadi beberapa tembakan gas air mata kembali di luar stadion.
Baca Juga: Viral Emak-emak Nangis Bombay Saat Tahu Lesti Kejora Jadi Korban KDRT, Sakit Hati Ini!
Pembuat utas mengungkapkan bahwa kondisi luar stadion kanjuruhan sudah sangat mencekam.
Banyak supporter lemas bergelimpangan, terdengar teriakan dan tangisan wanita, terlihat orang-orang berlumuran darah, mobil hancur.
Terlihat juga batu batako, besi, dan bambu berterbangan, serta kalimat makian dan amarah yang dilontarkan.
Sementara itu, dalam jumpa persnya, Minggu (2/10/2022), Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nico Afinta, menjelaskan korban meninggal dunia, sementara capai 127 orang. Dua di antaranya merupakan anggota Polri.
Baca Juga: Pingin jadi 'PNS'? Raffi Ahmad Buka Loker di Rans Entertainment, Simak Info Lengkapnya di Sini
"Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang, dua di antaranya adalah anggota Polri," kata Nico.
Dijelaskan Nico dari ratusan korban meninggal tersebut, sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, sementara sisanya meninggal saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat.
Selain itu, saat ini ada sekitar 180 orang yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit tersebut, seperti dikutip dari Republika.co.id , Minggu (2/10/2022), dalam artikel Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang, Kapolda Jatim: 127 Orang Meninggal Termasuk 2 Polisi.