News

Satu-Satunya Tahanan Politik G30S PKI, Kolonel Abdul Latief Jadi Saksi Kunci Peristiwa Kelam 30 September

Oleh: Christy Ayu Saputri Kamis 29 Sep 2022, 10:22 WIB
Kol. A. Latief

 

AYOJAKARTA.COM--- Peristiwa  G30S PKI menorehkan luka mendalam dengan tragedi hilangnya 6 Jendral dan 1 perwira, yang berakhir dibunuh dan dimasukkan ke Sumur lubang buaya.

Tragedi ini meninggalkan saksi hidup yang dibawa hingga akhir hayat oleh mantan perwira tinggi Tentara Angkatan Darat Kolonel Abdul Latief.

Baca Juga: Siapa Mantan Istri Dedi Mulyadi? KDM Didoakan Cepat Mendapatkan Pendamping Hidup yang Baru

Kolonel Abdul Latief kemudian ditangkap dan dipenjara atas tuduhan terlibat Gerakan 30S PKI pada 11 Oktober 1965. ia diadili pada tahun 1978.

Lantas Latief memberikan kesaksian penting yang dikisahkan dalam pledoinya dan telah dibukukan.

Masa orde baru adalah masa mulainya gejolak politik dan gesekan antar kepentingan petinggi serta ideologi berkembang pada masa itu. Latief menceritakan penyiksaan panjang dan menyakitkan baik fisik maupun mental yang diluar nalar kemanusian.

Baca Juga: Inilah Profil 7 Jenderal yang Diculik dan Dibunuh pada Peristiwa G30S PKI!

Diungkapkan bahwa dirinya dan rekan lainya adalah kesatuan yang melindungi Bung Karno dari rencana perlawanan yang akan dilakukan oleh para petinggi TNI AD yakni Jenderal Ahmad Yani, dan kawan-kawannya.

Pada saat itu Latief menemui Soeharto yang kala itu menjabat panglima TNI Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat. Tepatnya dua hari sebelum Gerakan 30S PKI meletus, ia melaporkan akan ada rencana untuk membawa para Jenderal TNI.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Dapat Doa agar Ketemu Pendamping Hidup yang Baru: Semangat Pak

Diketahui bahwa Soeharto telah mengetahui isu tentang Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno.

Sayangnya laporan tersebut tidak digubris oleh Soeharto, ia tidak memberikan perintah apapun untuk menghentikan rencana tersebut terjadi. 

Latief juga bertemu kembali dengan Soeharto yang kala itu berniat untuk menjenguk anaknya Tomi, yang dirawat terkena tumpahan air panas. Kemudian juga memberikan laporan perkembangan terkait rencana untuk membawa para Dewan Jenderal ke hadapan Soekarno.

Baca Juga: Fadil Zumhana Nyatakan Berkas Sambo Lengkap, 5 Tersangka Pembunuhan Brigadir J Segera Disidangkan

Namun, Soeharto hanya menanggapi dengan tenang dan menganggukan kepalanya sejenak.

Hingga kemudian peristiwa tragis itu terjadi dan merenggut nyawa para Jendral TNI sangat tidak manusiawi, menorehkan sejarah kelam dan panjang hingga kini diperingati sebagai  G30S PKI.

Peristiwa itu kemudian berbuntut pada penggulingan Soekarno selaku presiden setelah mendapat laporan penumpasan para Jenderal TNI.

Baca Juga: Kunci Hidup Sukses di Dunia dan Akhirat Menurut Syekh Ali Jaber: Harus Seimbang!

Dalam pledoi yang ditulis di buku Kol.A. Latief dengan judul: Soeharto terlibat G 30S, terkenal dengan pertanyaannya yakni "Siapa sebenarnya yang melakukan coup d'etat pada 1 Oktober 1965: G30S PKI ataukah Jenderal Soeharto."

Latief semasa hidupnya sempat memberikan keterangan bahwa dirinya dan perwira lainnya hanya memiliki tujuan mengamankan para keenam Jenderal yang kala itu memiliki pemikiran barat, untuk dibawa ke hadapan Presiden Soekarno.

Namun, pada saat itu dirinya terkejut dengan kondisi lapangan operasi yang berantakan. Para Jenderal telah terbunuh sebelum dibawa ke Bung Karno, rencana operasinya kemudian berujung peristiwa berdarah, ia mengaku bingung dengan apa yang terjadi.

Baca Juga: Coki Pardede Bebas, Ini Alasannya Berhenti Memakai Narkoba hingga Membuat Dokumenter

Dianggap bertanggung jawab atas peristiwa tersebut Kol. A. Latif kemudian ditangkap, Ia dituding terlibat dalam gerakan G 30S PKI dengan rekan-rekannya yakni Kolonel Untung Syamsuri, Brigjen Soepardjo, dan Mayor Udara Suyono.

Sebagian besar perwira yang terlibat dalam gerakan tersebut oleh Mahkamah Militer Luar Biasa dijatuhi hukuman mati.

Akan tetapi berbeda dengan Kol. A. Latif yang yang mendapat hukuman penjara seumur hidup dan menghirup udara bebas setelah orde baru tumbang pada masa Presiden BJ Habibie pada 6 Desember 1998.

Baca Juga: Buya Yahya Bilang Rezeki Seret Dapat karena kebiasaan Ini, Maka Jangan Dilakukan!

Peristiwa pada 30 September kemudian dikenang sepanjang sejarah dalam G 30S PKI dan melahirkan tujuh Pahlawan Revolusi atas gugurnya Jenderal Ahmad Yani, Jenderal S. Parman, Jenderal Suprapto, Jenderal Sutoyo, Jenderal MT Haryono, Jenderal Panjaitan, dan Kapten P. Tendean.

Kol. A. Latief sendiri setelah bebas sebagai tahanan politik, mengabadikan kesaksian hidupnya dalam sebuah pledoi yang ditulisnya dan telah dibukukan untuk membantu menyibak kejadian atas peristiwa tersebut. Ia juga bercita-cita untuk membuat kisah tentang dirinya dengan lebih detail.

Baca Juga: Mengenal Sosok Dalang G30S PKI Letkol Untung Syamsuri yang Tidak Seberuntung Namanya

Namun, sayangnya ia belum bisa menerbitkan bukunya karena sakit paru-paru yang dideritanya, Latief kemudian meninggal dunia pada usia 86 tahun 2005.***

 

 

 

 

Reporter Christy Ayu Saputri
Editor Kiki Dian Sunarwati