AYOJAKARTA.COM – Rekontruksi kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Agus Buntung alias I Wayan Agus Suartama atau Iwas telah dilakukan pada Rabu, 11 Desember 2024 di Mataram, NTB.
Proses rekonstruksi yang dilakukan oleh Agus Buntung ini dilakukan di tiga lokasi, yaitu Universitas Udayana, Homestay, dan Kawasan Islamic Center.
Adegan demi adegan diperagakan dalam rekonstruksi kasus untuk mengungkap fakta seterang-terangnya, termasuk akal bulus Agus dalam memancing korban.
Berdasarkan informasi, Agus kerap kali memanfaatkan kekurangannya untuk memancing para korban.
Baca Juga: Bikin Was-Was! Terungkap Rayuan Maut Agus Buntung dalam Manipulasi para Korban Pelecehan
Akal Bulus Manipulasi Agus Buntung
Akal bulus Agus Buntung atau Agus Iwas mulanya menarik simpati korban dengan memanfaatkan kekurangan dirinya yaitu sebagai seorang disabilitas.
“Memanfaatkan kekurangan yang ada pada dirinya agar ada rasa iba atau kasihan dari korban,” ungkap Komisi Disabilitas Daerah NTB, Yan Mangandar Putra, dikutip dari kanal YouTube METRO TV, Kamis, 12 Desember 2024.
Awalnya, Agus melancarkan aksinya yaitu dengan percakapan hal biasa seperti bertanya mengenai jam kepada si korban.
Namun, lama-lama percakapan tersebut merembet ke hal-hal pribadi yang menyangkut aib yang dimiliki si korban.
Kemudian, Agus menawarkan solusi “mandi suci” kepada para korban dengan membantu dalam tradisi mensucikan diri.
“menawarkan solusi bahwa seakan-akan dia bisa untuk membersihkan korban dengan tawaran mandi suci,” jelas komisi Disabilitas NTB tersebut.
Jika si korban menolak, dia akan mulai melakukan pengancaman seperti mengetahui informasi korban yang seakan-akan dia sudah mengenal korban jauh lebih dulu yang membuat si korban terpaksa untuk menurutinya.
Sementara itu, menurut kuasa hukum Agus, Ainudin, apa yang telah dilakukan oleh Agus dan si korban berdasar suka sama suka.
Bahkan, kata Ainudin, korban lebih aktif dan Agus sering meminta membayar penginapannya sebesar Rp50.000.
Kasus pelecehan Agus Buntung, yang merupakan seorang penyandang disabilitas, telah menarik perhatian publik setelah ia ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan pelecehan seksual terhadap 15 orang, termasuk anak-anak di bawah umur.***