AYOJAKARTA.COM – Persaingan antara pasangan Ridwan Kamil-Surwono (Rido) dengan Pramono-Rano, ditengarai akan menjadi episentrum politik di ajang Pilkada Jakarta.
Meski dukungan koalisi parpol tidak setara di segi jumlah, namun kekuatan antara kedua cagub-cawagub peserta Pilkada Jakarta tersebut justru relatif seimbang.
Karena itu dalam survei elektabilitas Pilkada Jakarta yang sempat dirilis Litbang Kompas, menunjukkan adanya persaingan sengit antara pasangan Rido serta Pramono-Rano.
Meski unggul dalam persentase elektabilitas, kondisi tersebut tidak secara absolut mengindikasikan kemenangan Pramono-Rano atas peserta lainnya.
Pandangan terkait substansi survei elektabilitas tersebut, merupakan pandangan Yohan Wahyu yang merupakan Peneliti Litbang Kompas.
“Jadi artinya tidak bisa kita simpulkan mana yang lebih unggul, karena selisihnya memang masih dalam margin error,” ungkapnya.
Sisa waktu kampanye yang hanya tinggal beberapa pekan, menurut Yohan akan menjadi momentum penting bagi seluruh peserta Pilkada Jakarta khususnya nomor urut 1 dan 3.
Dampak dari ketatnya rentang persaingan antara masing-masing paslon, menurut Yohan akan membuat Pilkada Jakarta berlangsung dalam dua putaran.
Selain Yohan Wahyu, pandangan serupa terkait ketatnya persaingan di Pilkada Jakarta juga disampaikan Analis Politik Adi Prayitno.
Menurut Adi, kerja-kerja politik dari masing-masing pasangan akan menjadi penentu utama siapa figur yang paling berpotensi memenangkan Pilkada Jakarta.
Baca Juga: Catat! Ini Kisi-Kisi SKB CPNS 2024 Khusus Formasi Perawat Ahli Pertama dan Terampil
Kecenderungan elektabilitas pasangan Rido menurut Adi mengalami penurunan, sementara Pramono-Rano sebaliknya.
“Logika survei itu biasanya kalau yang naik agak susah untuk turun, tapi yang turun agak susah untuk naik,” jelas Adi.
Tingginya tingkat persaingan antara paslon nomor urut 1 dan 3, menurut Adi akan berimplikasi pada kesamaan mentalitas untuk bisa menang dalam satu putaran.
Sehingga peran mesin-mesin politik dari kedua paslon akan semakin dioptimalkan guna mencapai kemenangan tersebut.
Lebih lanjut Adi menilai, salah satu keunggulan yang membuat kecenderungan elektabilitas Pramono-Rano terus meningkat adalah minimnya resistensi dari pemilih.
Berbeda dengan dengan Suswono yang sempat blunder karena pernyataan mengenai Janda Kaya, hal tersebut membuat Ridwan Kamil perlu bekerja lebih ekstra.
Salah satu variabel penting yang dapat menjadi penentu kemenangan Pilkada Jakarta satu putaran, menurut Adi adalah kemampuan kontestan untuk bisa merangkul Anak Abah.
Disamping kemampuan merangkul pendukung Anies Baswedan, hal lain yang menjadi penentu kemenangan adalah kualitas pernyataan masing-masing calon.
“Menurut saya di sisa pencoblosan ini tinggal dua hal, siapa yang kerja politiknya mantap dan tidak bikin blunder, dialah yang akan menang,” tegas Adi. ***