AYOJAKARTA.COM - Penyampaian Rocky Gerung dalam dialog seharusnya menjadi perhatian penting bagi seluruh rakyat Indonesia.
Khususnya untuk mencari pemimpin yang baik, bukan mencari elektabilitas karena rentan untuk dimanipulasi Lembaga-lembaga survey.
Rocky Gerung menyebutkan bahwa etikabilitas dan intelektualitas dibutuhkan untuk jadi calon presiden di Indonesia.
Rocky Gerung mengatakan bahwa menjadi calon presiden di Indonesia harus mempunyai etikabilitas dan intelektualitas, bukan hanya mengandalkan elektabilitas.
Etikabilitas yaitu kemampuan seorang calon pemimpin dalam memahami dan mempraktikkan kode etik.
Setelah lolos dari etikabilitas, calon pemimpin akan diuji secara intelektualitas.
Rocky mengatakan bahwa pemimpin di negeri ini harus mampu berdebat dengan pemimpin dunia.
Kemudian Rocky juga melanjutkan bahwa jika elektabilitas yang dikedepankan, maka hal itu rentan untuk dimanipulasi karena jawaban bisa dilakukan oleh pihak-pihak tertentu ke lembaga-lembaga survey.
“Balik pada hari ini kita bicarakan sesuatu yang sebetulnya barang bekas semua nih, yang kita tahu ini terjadi karena perebutan threshold, mulailah dengan mengucapkan thresholdnya dibikin nol itu harusnya tuh supaya ada kesetaraan orang berargumen”, kata Rocky Gerung.
Rocky juga menambahkan bahwa hal itu supaya argumennya bagus, bukan karena pendukungnya bagus.
Rocky selalu mengatakan bahwa untuk menjadi calon presiden, calon wakil presiden, calon gubernur, calon bupati, atau yang lainnya, harus menggunakan etikabilitas dan bukan elektabilitas.
Baca Juga: Rocky Gerung Blak-blakan Soal Gerakan Pasang Foto Gibran Rakabuming Diganti Tulisan Fufufafa
“Tapi etikabilitas itu, calon pejabat ini pernah berbohong enggak, pernah nyolong enggak, kalau dia lolos etikabilitas, saya uji yang kedua intelektualitas karena dia musti berdebat dengan pemimpin dunia”, ujar Rocky.
Rocky juga menambahkan bahwa pentingnya latihan perdebatan. Perdebatan adalah konstruksi berpikir, dasar perdebatan kemampuan untuk mengolah pikiran bukan sekedar untuk retorika tapi dengan logika.
“Jadi kalau seorang pemimpin Pilkada misalnya, dia lolos etikalitas, oke, bagus moralnya bagus, tunggu dulu, belum selesai, apakah dia mampu untuk mengunyah konsep ilmu pengetahuan sejarah dan lainnya? Jadi, loloskan dia secara etikabilitas, loloskan dia secara intelektualitas baru dia kita izinkan diuji elektabilitasnya”, kata Rocky.
“Bukan elektabilitasnya diuji duluan, elektabilitasnya bisa disogok ke lembaga-lembaga survei kok, Nah, Saya ingin didik bangsa ini sebagai seorang yang memilih profesi dosen, guru supaya jujur dalam berargumentasi”, tambahnya.
Semoga Informasi yang disampaikan dapat bermanfaat mengenai pemimpin cerdas di Indonesia.***