AYOJAKARTA.COM – Baru-baru ini, Parlemen Iran telah menyetujui rencana penutupan Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran pada Sabtu malam, 21 Juni 2025.
Keputusan ini menandai eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 persen dari pasokan minyak dunia setiap hari.
Tentunya, Penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur perdagangan minyak terpenting di dunia, berpotensi menimbulkan guncangan besar bagi perekonomian global sekaligus memberikan tekanan serius pada stabilitas ekonomi Indonesia.
“kalau itu dilakukan akan terjadi krisis ekonomi global yang sangat luar biasa,” ungkap Pengamat Timur Tengah sekaligus Dubes RI Tunisia, Zuhairi Misrawi yang dikutip dari Metro TV Selasa (24/06/2025)
Sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah rangkuman dampak utama yang diperkirakan terjadi jika selat Hormuz resmi ditutup.
Dampak Global dan Ekonomi Indonesia
1. Lonjakan Harga Minyak Dunia
Selat Hormuz adalah jalur strategis yang menghubungkan Teluk Arab dengan Laut Arab, menjadi rute utama bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Penutupan selat ini akan memicu kenaikan tajam harga minyak global, yang saat ini sudah berada di kisaran 80 dolar AS per barel.
2. Beban Subsidi BBM di Indonesia Membengkak
Kenaikan harga minyak dunia akan menambah tekanan pada anggaran negara, terutama subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Pemerintah Indonesia harus menyiapkan anggaran ekstra yang besar untuk menanggulangi lonjakan harga energi ini.
3. Kenaikan Harga Barang dan Inflasi
Harga energi yang naik akan berdampak pada biaya produksi berbagai sektor industri, termasuk industri elektronik, petrokomia, dan otomotif, yang bergantung pada bahan baku impor.
Hal ini akan memicu kenaikan harga barang secara umum dan inflasi, menurunkan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
4. Gangguan Rantai Pasok dan Logistik
Penutupan Selat Hormuz akan mengganggu rantai pasok global, termasuk pasokan bahan baku dan komponen industri di Indonesia yang sebagian besar diimpor dari negara-negara Asia. Gangguan ini berpotensi memicu kenaikan biaya produksi dan melambatkan aktivitas industry.
5. Risiko Ketegangan Militer dan Geopolitik
Penutupan selat bisa memicu konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, negara-negara Teluk, dan negara-negara lain yang memiliki kepentingan di kawasan, meningkatkan ketidakpastian dan risiko geopolitik global.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran akan menjadi pukulan besar bagi ekonomi global dan Indonesia, dengan efek langsung berupa lonjakan harga minyak, inflasi, tekanan pada APBN melalui pembengkakan subsidi energi, gangguan rantai pasok, serta potensi ketegangan militer yang dapat memperburuk situasi ekonomi dan keamanan regional. ***