AYOJAKARTA.COM - Pembahasan terkait gempa megathrust masih banyak menyita perhatian masyarakat.
Pasalnya, banyak isu berkembang terkait ancaman gempa megathrust hanya tinggal menunggu waktu.
Disebut-sebut wilayah Jawa, Sumatera, Bali, hingga Nusa Tenggara menjadi daerah dengan potensi ancaman gempa megathrust tertinggi di Indonesia.
Sebagai informasi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika sudah memprediksi terkait kemungkinan terjadinya gempa dahsyat yang berasal dari tumbukan segmen megathrust.
Potensi magnitudo getaran gempa megathrust yang bisa dihasilkan mencapai 8-9 SR.
Gempa megathrust tejadi akibat pergerakan lempeng tektonik yang sangat aktif sehingga terjadi guncangan dahsyat di atas pemukaan tanah.
Mengingat beberapa wilayah di Indonesia memiliki susunan struktur geologi yang dilintasi kawasan Cincin Api Pasifik, sehingga risiko gempa bumi hingga megathrust kemungkinan besar terjadi.
Pulau Jawa disebut sebagai wilayah dengan potensi ancaman gempa megathrust paling besar karena karena memiliki dua segmen megathrust, antara lain seismic gap megathrust Banten-Selat Sunda dan megathrust Mentawai-Siberut.
Baca Juga: Kamu Daftar Instansi BKN? Ini Beberapa Alasan yang Bikin Pelamar CPNS 2024 Bisa Jadi TMS
Pakar Geologi dan Dosen Teknik Geofisika ITS, Dr. Amien Widodo menjelaskan bahwa gempa megathrust yang disebut tinggal menunggu waktu ini, datangnya bisa dikenali secara dini.
"Ada penelitian yang sudah dilakukan oleh ITB terkait gempa yang pernah mengguncang Banten. Menurutnya, karena waktu tumbukan ada yang mengalami penekanan demikian sehingga ada segmen yang meregang."
" Peregangan ini dapat diukur secara kontinyu untuk memantau potensi gempa yang akan terjadi, misalnya di daerah pantai Jawa dengan potensi gempa paling besar," ungkap Amien, dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube Kompas TV, hari Selasa (10/9/24).
Berdasarkan hasil analisa, untuk melihat potensi gempa yang akan datang, maka perlu dilakukan pengukuran tumbukan lempeng yang terjadi sehingga orang akan tahu, peningkatan magnitudo gempa yang terjadi.
Tanda-tanda untuk mengenali datangnya gempa, adalah frekuensi kejadian gempa meningkat.
"Itu juga menjadi perhatian para ahli, karena di beberapa tempat seperti di Jogja tahun 2026, saat tahun 2005, gempa yang terjadi sangat banyak walaupun di bawah 5 (SR) tapi banyak frekuensinya," ujarnya.
Amien menjelaskan seringnya terjadi gempa bumi dengan skala kecil memicu lempeng megathrust mengalami keretakan dan lambat laut akan lepas dan berakibat terjadinya gempa dahsyat.
Lalu langkap mitigasi apa saja yang dilakukan oleh masyarakat untuk mengantisipasi datangnya gempa megathrust?
Dr. Amien Widodo menjelaskan bahwa ketenangan diri menjadi kunci dalam menghadapi ancaman gempa megathrust.
"Gempa megathrust tidak membunuh, yang membunuh itu bangunan. Bangunan yang runtuh, rumah yang runtuh," ungkap Amien.
Menurutnya, warga masyarakat harus tanggap dan mengantisipasi jika gempa datang melalui pemahaman mitigasi bencana yang tepat.
Jika pernah terjadi gempa besar di suatu wilayah berarti warga harus mengantisipasi dengan memperbaiki rumah menjadi tahan gempa sesuai skala magnitudo di daerah masing-masing.
"Selain mengupayakan bangunan atau rumah tahan gempa, sosialisasi terhadap jalur evakuasi saat gempa harus terus dilatih agar mereka refleknya lebih kuat," tambahnya.
Baca Juga: Pendukung Anies Baswedan Serukan Gerakan Bertemakan ‘Anak Abah Tusuk Tiga Paslon’, Apa Alasannya?
Selain itu, mitigasi gempa yang terjadi di dasar lautan dan bisa berpotensi tsunami juga wajib diperhatikan secara serius.
Masyarakat wajib memahami langkap tepat apa yang harus dilakukan jika mengalami bencana tsunami.
"Untuk di daerah pantai, karena disitu rawan terjadi tsunami maka masyarakat harus tau bagaimana. Harus tahu mau kemana, harus ada jalur evakuasi, tempat untuk mengungsi sementara, harus sudah disiapkan oleh masyarakat yang di pantai," ungkapnya.
Amien memberikan langkap mitigasi yang harus dilakukan masyarakat ketika mengalami gempa dan tsunami.
"Jadi kalau ada gempa datang harus tenang. Kalau dekat dengan pintu segera lari keluar."
"Kalau kita jauh dari pintu kita harus menunduk berlindung di bawah meja dan berpegangan kaki meja untuk melindungi kepala. Jadi harus ada pelatihan terus," jelasnya.
Selain itu upaya perbaikan konstruksi bangunan tahan gempa dan melakukan penguatan terhadap bangunan bisa menjadi alternatif langkah mitigasi dalam menghadapi ancaman gempa megathrust.
"Ya secepatnya buat contoh bangunan tahan gempa dan divideokan jadi masyarakat bisa tahu proses pembuatan dari awal hingga selesai," pungkasnya.***