News

Mencakup Aspek Struktural dan Sosiokultural, Ternyata Ini Upaya Pemerintah Dalam Melakukan Mitigasi Gempa Megathrust

Oleh: Karseno AJ Minggu 08 Sep 2024, 09:25 WIB
Upaya Pemerintah Dalam Melakukan Mitigasi Gempa Megathrust

AYOJAKARTA.COM - Meski bukan lagi merupakan fenomena baru, kekhawatiran akan adanya potensi gempa megathrust masih menyelimuti kebanyakan masyarakat Indonesia.

Selain karena magnitudonya yang relatif besar, gempa megathrust juga seringkali menjadi penyebab datangnya peristiwa susulan yakni tsunami. 

Peristiwa gempa Nankai, Jepang pada 8 Agustus 2024 lalu, oleh sebagian kalangan disebut-sebut menjadi ihwal mula lahirnya wacana adanya potensi gempa megathrust di Indonesia.

Berkenaan dengan adanya potensi gempa megathrust, Selat Sunda serta Mentawai-Siberut dianggap menjadi wilayah yang perlu memberikan perhatian secara khusus.

Baca Juga: Belum Tahu Cara Pembelian E-Meterai? Jangan Panik! Ini Dia Langkah-langkah Pembeliannya

Karena fenomena gempa megathrust di Indonesia masih merupakan sebuah misteri yang belum dapat diprediksi, maka langkah mitigasi perlu menjadi kesadaran kolektif.

Pernyataan terkait pentingnya upaya mitigasi tersebut disampaikan oleh Prihadi yang merupakan Pemerhati Manajemen Bencana.

“Ketidakpastian kapan terjadinya ini yang kita lakukan adalah bagaimana memitigasi baik masyarakat umum juga dari pemerintah,” ungkapnya dikutip dari kanal YouTube MetroTV, Minggu (8/9/2024). 

Selain mitigasi struktural yang dilakukan oleh BMKG, upaya mitigasi juga dilakukan oleh BNPB dan BPBD dalam bentuk sosiokultural.

Baca Juga: JUMAT BERKAH! Usai PKH Juli-September ‘Final Closing’ Ada Saldo Masuk Rp400 Ribu ke Rekening KKS Bank Ini, Ternyata…

Terkait dengan upaya mitigasi bencana, pemerintah Indonesia menurut Prihadi hingga saat ini telah menyebar sebanyak 560 alat pendeteksi gempa.

Namun demikian, ketersediaan perangkat tidak sepenuhnya menjamin keselamatan bagi masyarakat jika tidak dibarengi dengan adanya kesadaran bersama.

Menjadi salah satu negara yang merupakan tempat pertemuan antar lempeng, kesadaran terhadap upaya mitigasi khususnya di wilayah pesisir perlu lebih diperhatikan.

“Masyarakat juga masih harus sadar bahwa mereka tinggal di pesisir yang memang berpotensi tsunami,” imbuhnya.

Sehubungan dengan langkah mitigasi baik struktural dan sosiokultural, bentuk penerapan yang perlu diperbanyak adalah dengan menggelar kegiatan simulasi menghadapi bencana.

Metode tersebut, menurut Prihadi bisa menjadi salah satu cara terbaik untuk mendapatkan golden time saat benar-benar terjadi bencana.

Prihadi menilai semakin banyak golden time yang dimiliki masyarakat, maka peluang untuk bisa selamat dan menjadi penyintas akan semakin luas.

Berbeda dengan negara seperti Jepang yang meletakkan sensor gempa di dasar laut, hal tersebut belum sepenuhnya dilakukan di Indonesia.

Baca Juga: 29 Universitas Swasta Terbaik Indonesia, Masuk Peringkat ASEAN versi AppliedHe Private University Ranking 2024

“Beda dengan Jepang yang teknologinya sudah mumpuni, cara paling akurat mendapat golden time adalah mengetahui seberapa cepat gempa bisa dideteksi,” imbuhnya.

Namun demikian, BMKG telah berupaya untuk menitipkan sensor gempa kepada perusahaan-perusahaan telekomunikasi saat menanam kabel bawah laut.

Dengan adanya kemampuan untuk mendeteksi terjadinya gempa bumi lebih dini, maka Prihadi menilai langkah mitigasi akan semakin cepat diketahui masyarakat. ***

Reporter Karseno AJ
Editor Desi Kris