AYOJAKARTA.COM - Masih menjadi perhatian di kalangan masyarakat, potensi gempa bumi besar atau megathrust bukanlah merupakan fenomena baru bagi Indonesia.
Berada diantara dua benua dan samudera serta tiga lempeng, menjadikan wilayah kepulauan Indonesia memiliki potensi mengalami gempa bumi besar atau megathrust.
Membentang dari Pulau Sumatera, Jawa hingga NTB, serta Sulawesi dan Papua, bidang pertemuan antar lempeng membuat Indonesia tidak bisa lepas dari potensi megathrust.
Karena segmen megathrust yang jumlahnya 15 sudah tersebar dan menjadi bagian tidak terpisah dari Indonesia, maka kekhawatiran tidak diperlukan.
“Karena gempa adalah sesuatu yang siklusnya berulang, jadi memang potensi kedepan itu potensi Megathrust akan ada,”
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Peneliti Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. Nuraini Rahma Hanifa saat menjadi narasumber di sebuah siniar.
Lebih lanjut Rahma menyebut waktu terjadinya tumbukan atau momentum penyebab megathrust masih belum dapat diprediksi, sehingga dibutuhkan kewaspadaan.
Terkait dengan dampak dari adanya potensi megathrust, Rahma menilai fatalitas gempa turut dipengaruhi oleh jumlah penduduk di suatu wilayah.
Baca Juga: Selamat SP2D Sudah Turun! Apakah Bansos PKH September-Oktober 2024? Simak Selengkapnya di Sini!
Semakin besar jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah dan berada dekat bidang segmen, maka dampak akan semakin dirasakan.
Mengacu pada sensus penduduk, Pulau Jawa merupakan wilayah dengan jumlah populasi terbesar di Indonesia sehingga lebih beresiko terdampak.
Namun demikian Rahma menegaskan bahwa megathrust bukanlah penyebab utama bencana, melainkan fenomena alam yang memiliki keteraturan atau siklus.
“Gempa megathrust itu baru akan menjadi bencana pada saat menimbulkan korban jiwa, rumah rusak atau kerugian ekonomi,” imbuhnya dikutip dari kanal YouTube BRIN Indonesia, Kamis (5/8/2024).
Karena itu, salah satu hal paling krusial yang patut dipersiapkan oleh seluruh wilayah di Indonesia adalah menyadari pentingnya mitigasi.
Langkah mencegah dampak atau mitigasi sangat dibutuhkan, di samping menyangkut aspek keselamatan yang bersifat masyarakat juga berkaitan dengan keselamatan pribadi.
“Saat penduduk dan pemerintah bisa beradaptasi dan melakukan upaya mitigasi, maka Insya Allah tidak menjadi bencana yang besar,” jelas Rahma.
Bercermin dari Jepang yang memiliki kondisi tidak jauh berbeda dengan Indonesia terkait gempa, sepatutnya setiap individu menyiapkan diri dalam menghadapi potensi bencana.
Acuan paling esensial dalam melakukan langkah mitigasi, menurut Rahma adalah berbasis pada Science Engineering Technology and Innovation.
Prinsip utama dalam melakukan langkah mitigasi, menurut Rahma meliputi empat fase yang terdiri dari pra bencana, kesiapan sebelum bencana, saat terjadi dan pasca bencana.
Empat fase paling esensial mitigas bencana tersebut, menurut Rahma perlu dimulai dari kesadaran pribadi, lingkungan, sekolah bahkan pemangku wilayah atau pemerintah. ***