AYOJAKARTA.COM - Belum lama ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan akan adanya gempa megathrust.
BMKG mengatakan bahwa gempa megathrust tersebut tinggal menunggu waktu akan terjadi. Peringatan BMKG tersebut membuat heboh masyarakat Indonesia.
Gempa megathrust tersebut mempunyai kekuatan yang sangat besar yakni 8 sampai 9 SR.
Gempa megathrust bisa terjadi di 13 zona megathrust dan ada 2 zona yang terjadi gempa selama ratusan tahun.
Baca Juga: YES! 5 Bansos Cair Mulai Hari Ini dan Ada 2 Bantuan Tambahan yang Cair untuk KPM, Apa Saja?
Kedua zona tersebut adalah daerah Mentawai-Siberut dan Selat Sunda. Gempa megathrust merupakan gempa bumi yang berkekuatan sangat besar dan terjadi di zona subduksi bumi.
Gempa megathrust terbentuk pada saat subduksi bergerak dengan lempeng yang tidak bisa terhentikan dan terdapat tekanan di area tempa antarmuka kedua lempeng yang terkunci.
Setelah itu, kekuatan yang sangat besar tersebut dilepaskan dan akhirnya terjadi gempa bumi megathrust.
Peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa mengatakan bahwa di Indonesia mempunyai 15 segmen gempa megathrust.
Ia juga menyampaikan gempa megathrust pernah terjadi di Indonesia tepatnya di Aceh dan akan terjadi lagi di wilayah Indonesia.
“Kita punya 15 segmen megathrust dan dari 15 segmen megathrust ini, kita punya sejarah 20 tahun yang lalu persis sekarang 2024 tahun 2004 itu kita mengalami gempa megathrust di Aceh” ucap Peneliti BRIN tersebut, dikutip Ayojakarta.com dari Youtube BRIN Indonesia, pada Rabu, 4 September 2024.
“Dan memang Megathrust ini karena gempa adalah sesuatu yang siklusnya berulang jadi memang potensi ke depan itu untuk megathrust ya dia akan ada dan akan berulang” lanjutnya.
Nuraini Rahma Hanifa menyebut bahwa Indonesia perlu memperkuat riset, inovasi dan teknologi. Kemudian, harus melakukan upaya mitigasi bencana harus berbasis science engineering technology and innovation.
“Kita perlu sangat memperkuat riset inovasi teknologi untuk kemudian kita melakukan upaya mitigasi bencana dan itu juga yang kemudian di diadvokasikan bahwa upaya mitigasi bencana itu perlu berbasiskan science engineering Technology and Innovation” Ujarnya.
Peneliti BRIN tersebut menyampaikan alasan kita harus melakukan upaya mitigas bencana tersebut untuk mengetahui penyebab banyaknya korban jiwa.
Ia juga akan mengupayakan bagaimana caranya langkah mitigasi tersebut bisa tersampaikan ke masyarakat dengan baik.
“Kenapa karena sebetulnya apa sih yang menjadi penyebab banyak korban jiwa misalkan ‘Bagaimana caranya kita membangun rumah yang bisa lebih tahan gempa tanpa merubuhkan bangunannya’ itu juga aspek riset di mana saja potensi itu bisa terjadi itu aspek riset” ucapnya.
Baca Juga: UMM dan UMY Ungguli Unesa! 30 Perguruan Tinggi Terbaik versi Webometrics Impact and Excellent 2024
“Bagaimana kita mengembangkan peringatan dini’ itu juga aspek riset dan teknologi itu justru masuk di situ teknologi untuk membangun rumah tahan gempa teknologi peringatan dini gimana supaya bisa cepat tersampaikan dan bisa diakses oleh masyarakat” lanjutnya.
“Gimana kita bisa menciptakan inovasi-inovasi baik secara teknologi secara rekayasa maupun secara metodologi pendekatan” ucapnya lagi.***