AYOJAKARTA.COM – Kementerian Kesehatan mencatat ada 88 kasus Cacar Monyet atau Mpox di Indonesia.
Mpox atau Monkeypox merupakan penyakit yang disebabkan virus yang berasal dari keluarga Poxviridae, genus Orthopoxvirus.
Virus Mpox awalnya ditemukan pada monyet, akan tetapi dapat menular ke manusia dengan cara kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi atau melalui droplet pernapasan yang terinfeksi.
Umumnya, gejala akibat Mpox bersifat ringan dan dapat sembuh dalam waktu beberapa minggu.
Akan tetapi, virus ini juga bisa menyebabkan komplikasi dan kematian khususnya pada anak-anak, ibu hamil hingga gangguan sistem imun.
Untuk mengurangi risiko terpapar Mpox, mungkinkah masyarakat bisa mendapatkan vaksin Cacar Monyet?
Dikutip ayojakarta.com dari sehatnegeriku.kemkes.go.id pada Selasa (3/9/2024), pemberian vaksin Mpox di Indonesia hanya ditujukan untuk kelompok berisiko tinggi saja.
Hal ini sesuai dengan rekomendasi yang disampaikan World Health Organization (WHO) soal pemberian vaksin cacar dan Mpox.
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, Prima Yosephine mengatakan kelompok yang berisiko tinggi terpapar Mpox di antaranya LSL atau lelaki berhubungan seks dengan lelaki atau pasangan seks multiple dan individu yang kontak dengan penderita Mpox dalam dua minggu terakhir.
Kemudian, kelompok lain yang berisiko terpapar Mpox adalah petugas laboratorium yang melakukan pemeriksaan spesimen virologi, khususnya di daerah yang terdapat kasus Mpox serta petugas kesehatan yang melakukan penanganan Mpox.
Sementara, anak-anak tak termasuk dalam kelompok sasaran vaksin Mpox di Indonesia.
Meski begitu, petugas kesehatan akan melakukan penanganan khusus Mpox dan akan diberikan vaksin untuk memberi perlindungan dari paparan virus tersebut.
Baca Juga: 88 Kasus Mpox di Indonesia sejak 2022 hingga 2024, Ternyata Belum Ada Varian Ini
Dokter Prima mengatakan pemberian vaksin Mpox di Indonesia bersifat pencegahan yang bertujuan mencegah munculnya gejala dan meminimalkan keparahan penyakit.
“Salah satu kriteria penerima vaksin Mpox adalah individu yang pernah kontak dengan penderita Mpox (vaksinasi post exposure)” kata Prima Yosephine.
Ia menambahkan bahwa orang yang pernah kontak dengan penderita Mpox belum tentu terinfeksi.
Sehingga, vaksin Mpox masih bersifat pencegahan dan bagi yang sudah terinfeksi akan diberikan pengobatan yang sesuai.
Saat ini, pemberian vaksin Mpox secara massal ke masyarakat tak direkomendasikan.
Adapun jenis vaksin Mpox yang digunakan di Indonesia adalah Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic (MVA-BN) yang merupakan vaksin turunan smallpox generasi ketiga yang bersifat non-replicating.
Jenis vaksin tersebut sudah mendapat rekomendasi dari WHO untuk digunakan apabila wabah Mpox melanda.
Vaksin Mpox memberikan proteksi tingkat tertentu terhadap infeksi dan penyakit berat.
Meski sudah divaksin, masyarakat tetap harus waspada karena pembentukan kekebalan tubuh memerlukan waktu beberapa minggu.
Jika sudah divaksin dan tertular Mpox, WHO menyebut bahwa vaksin melindungi terhadap penyakit berat dan perawatan intensif.
Hasil penelitian menunjukkan efektivitas vaksin memberikan tingkat perlindungan yang baik terhadap Mpox.***