News

Mantan Direktur WHO Asia Tenggara Ungkap 8 Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Hadapi MPox, Apa Saja?

Oleh: Karseno AJ Kamis 22 Agu 2024, 08:48 WIB
Ilustrasi penyakit cacar monyet atau kasus MPOX yang semakin meningkat

 

AYOJAKARTA.COM – Meski tak semata-mata ditularkan melalui Monyet, MPox atau dikenal dengan Monkey Pox atau Cacar Monyet kembali menjadi sorotan di Indonesia.

Selain karena terjadinya penambahan kasus di Indonesia sejak 2023, MPox juga disorot masyarakat dunia akibat peningkatan jumlah kasus di Afrika.

Kekhawatiran akan adanya potensi penularan lintas benua sebagaimana diperingatkan  Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, membuat MPox perlu diwaspadai.

Sebelumnya, hal serupa juga pernah dialami masyarakat dunia pada 2022, namun berhasil diantisipasi dan ditangani.

Baca Juga: Viral Virus Monkey Pox (Mpox) di Indonesia, Manajer WHO Samuel Boland Ungkap Fakta Penting

Kewaspadaan akan dampak dan bahaya MPox tersebut menurut Tjandra Yoga Aditama selaku mantan Direktur WHO Asia Tenggara perlu diketahui.

Dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan dampak dan proses penularan Mpox, maka potensi peningkatan penularan lebih dapat dikendalikan.

Salah satu upaya paling sederhana yang dapat dilakukan masyarakat umum menurut Tjandra adalah dengan mengetahui gejala klinis akibat Mpox.

Selain timbulnya bintil merah atau benjolan menyerupai bisul di kulit, kelenjar getah bening pada bagian leher atau paha juga menjadi indikasi.

Baca Juga: BEDA! 88 Kasus Mpox Telah Ditemukan di Indonesia, Ini Perbedaan Cacar Monyet dan Cacar Air Biasa

Selain itu, Tjandra juga menyebut penderita Mpox umumnya akan mengalami demam tinggi disertai dengan sakit kepala.

“Kalau ada orang sekitar yang mengalami gejala fisik tersebut, disarankan untuk ke fasilitas kesehatan karena belum tentu Mpox,” ungkap Tjandra Yoga Aditama dikutip ayojakarta.com dari YouTube Metro TV, Kamis (22/8/2024).

Selain menjadi pertimbangan bagi masyarakat umum, Tjandra juga menekankan delapan hal untuk bisa disikapi secara serius oleh pemerintah.

Bukan hanya surveillance atau pengamatan wilayah, pemerintah juga perlu mempersiapkan fasilitas biomolekuler untuk memastikan diagnosis.

Baca Juga: Waspada Mpox! Hindari Bepergian Ke Negara yang Terjangkit Cacar Monyet

Hal ketiga yang perlu ditangani adalah penelusuran kontak serta persiapan  melakukan langkah karantina jika diperlukan.

Berbeda dengan Covid yang menggunakan jumlah hari sebagai indikasi pemulihan, virus Mpox lebih mengacu pada kondisi fisik kulit penderita.

Kesiapan selanjutnya yang menurut Tjandra perlu diperhatikan adalah ketersediaan vaksin serta karantina di perbatasan atau pintu masuk negara.  

“Yang ketujuh adalah penyuluhan kesehatan, dan terakhir adalah harus ada kerjasama secara internasional sebagai langkah penanggulangan,” jelas Tjandra.

Baca Juga: Ramai Soal Wabah Virus Mpox di Indonesia, Ini 5 Fakta Penting yang Wajib Diketahui Masyarakat

Terkait penyebab penularan terbesar, Tjandra menyebut sangat mungkin karena adanya kontak langsung dengan penderita atau karena hubungan biologis.

“Berbeda dengan Covid yang ditularkan melalui udara, Mpox karena ada kontak fisik dan sebagian besar karena hubungan seksual,” pungkas Tjandra.

Sampai 20 Agustus 2024, jumlah kasus Mpox di Indonesia diketahui tercatat sebanyak 88 kasus.***

Reporter Karseno AJ
Editor Fathul Amanah