AYOJAKARTA.COM -- Pada 14 Agustus 2024, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menetapkan bahwa adanya lonjakan signifikan kasus mpox atau cacar monyet.
Lonjakan wabah cacar monyet ini terjadi di Republik Demokratik Kongo (DRC) dan sejumlah negara lain di Afrika.
Informasi tersebut dikutip oleh Ayojakarta.com dari laman resmi WHO pada Sabtu, 17 Agustus 2024.
Baca Juga: Waspada! Total Kasus Terkonfirmasi Capai 87 di Indonesia, Begini Gejala Mpox pada Manusia
Kasus mpox atau cacar monyet ini mencapai status Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC).
Keputusan ini diambil berdasarkan rekomendasi dari Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional (2005) yang terdiri dari para ahli independen.
Pernyataan darurat ini disampaikan setelah Komite Darurat WHO meninjau data yang disajikan oleh para ahli dari WHO dan negara-negara yang terdampak.
Baca Juga: Jumlah Kasus Cacar Monyet atau Monkeypox Alami Peningkatan, Ini 3 Kelompok Berisiko Paling Rentan
Komite Darurat WHO menyatakan peningkatan kasus mpox atau cacar monyet berpotensi menyebar lebih luas, baik di dalam Afrika maupun di luar benua tersebut.
“Kemunculan klad baru mpox, penyebarannya yang cepat di bagian timur DRC, serta laporan kasus di beberapa negara tetangga sangat mengkhawatirkan," ungkap Dr. Tedros.
"Selain itu, dengan adanya wabah dari klad-klad mpox lain di DRC dan negara-negara Afrika lainnya, diperlukan respons internasional untuk menghentikan wabah ini," lanjutnya
Dr. Matshidiso Moeti, Direktur WHO Regional untuk Afrika, menambahkan bahwa upaya signifikan sudah dilakukan dengan kerjasama erat antara komunitas dan pemerintah setempat.
“Kami sedang meningkatkan upaya ini melalui aksi internasional yang terkoordinasi untuk mendukung negara-negara mengakhiri wabah ini,” ujarnya.
Mpox atau cacar monyet pertama kali terdeteksi pada manusia di tahun 1970 di DRC, dan sejak itu dianggap endemik di negara-negara Afrika tengah dan barat.
Pada Juli 2022, wabah mpox multi-negara yang menyebar melalui kontak seksual di berbagai negara di luar Afrika juga dinyatakan sebagai PHEIC.
Namun, di DRC, kasus mpox telah dilaporkan selama lebih dari satu dekade dengan jumlah yang terus meningkat setiap tahunnya.
Baca Juga: Hati-Hati! Inilah Kelompok yang Beresiko Tertular Cacar Monyet
Tahun lalu, jumlah kasus Mpox atau cacar monyet meningkat drastis, dan jumlah kasus yang dilaporkan tahun ini sudah melebihi total tahun lalu dengan lebih dari 15.600 kasus dan 537 kematian.
WHO saat ini merekomendasikan dua vaksin yang sudah digunakan untuk mpox, yang telah disetujui oleh otoritas regulasi nasional serta WHO.
Minggu lalu, Dr. Tedros juga memulai proses pencatatan vaksin cacar monyet untuk penggunaan darurat.
Hal ini akan mempercepat akses vaksin bagi negara-negara berpenghasilan rendah yang belum mengeluarkan persetujuan regulasi nasional mereka sendiri.
WHO juga mengantisipasi kebutuhan dana segera sebesar USD 15 juta untuk mendukung aktivitas pengawasan, kesiapsiagaan, dan respons.
Untuk sementara, WHO telah merilis USD 1,45 juta dari Dana Darurat WHO dan mungkin akan merilis lebih banyak dalam beberapa hari ke depan.