News

Gempa Megathrust Mengancam Indonesia, Pulau Jawa Terancam Terbelah? Begini Kata Guru Besar ITB

Oleh: Linda Wati Jumat 16 Agu 2024, 12:52 WIB
Ilustrasi: Gempa bumi megathrust.

AYOJAKARTA.COM - Baru-baru ini, Gempa Megathrust sedang menjadi perbincangan publik lantaran disebut mengancam Indonesia.

Gempa Megathrust merupakan gempa berkekuatan besar yang juga dapat berpotensi tsunami.

Guru Besar ITB, Irwan Meilano menyampaikan bahwa Gempa Megathrust berkekuatan lebih dari 8 magnitudo.

“Gempa Megathrust itu berarti gempanya di atas 8 terus mekanismenya naik,” kata Irwan Meilano dikutip ayojakarta.com dari YouTube Kompas.com, Jumat (16/8/2024).

Baca Juga: Kepala BMKG Soal Viral Potensi Gempa Megathrust Mengancam Wilayah Mentawai dan Selat Sunda, Begini...

Gempa tersebut memiliki guncangan sangat kuat karena magnitudonya adalah delapan.

Ancaman lainnya yakni tsunami karena beberapa gempa Megathrust bisa terjadi di laut.

“Beberapa gempa jenis ini terjadi di laut, begitu terjadi di laut terus tiba-tiba bagian dari dasar laut naik ke atas maka air laut di atasnya pun akan terangkat, pada saat airnya terangkat maka menghasilkan tsunami,” jelasnya.

Namun, Irwan membantah kalau gempa Megathrust dapat membelah pulau Jawa.

Baca Juga: Waspada Megathrust! Pulau Jawa dan Bali Berpotensi Gempa Besar hingga Tsunami, BMKG: Tinggal Tunggu Waktu

Efek gempa bumi hasil dari observasinya pasca kejadian gempa di Indonesia adalah robekan di daratan. 

“Misalnya robekan pada bidang gempa yang kami temukan pada saat gempa Jogja 2006, itu pergeseran pada bidang gempa itu hanya 12 mili, saya rasa itu tidak cukup merobek Pulau Jawa,” kata Irwan.

Ia menyebut bahwa penguatan literasi bagi masyarakat harus dikedepankan untuk meningkatkan pengetahuan dan mengurangi risiko ketika bencana terjadi.

“Jadi menurut saya (gempa Megathrust dapat membelah PuIau Jawa) itu informasi yang miss leading,” jelasnya.

“Menurut saya persoalan yang serius dalam upaya pengurangan bencana di Indonesia adalah literasi. Pemahaman kita masyarakat mengambil kebijakan akan bencana itu tidak didukung oleh pengetahuan yang kuat,” Irwan menambahkan.***

Reporter Linda Wati
Editor Fathul Amanah