BANDUNG, AYOJAKARTA.COM -- Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bersama 27 kabupaten/kota melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) se-Jawa Barat menyamakan persepsi bersama untuk menjaga inflasi agar tetap terkendali sekaligus menjaga stabilitasi harga pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) dalam High Level Meeting TPID dan TP2DD Jawa Barat.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat, Muhamad Nur mengatakan, kegiatan High Level Meeting TPID dan TP2DD Jawa Barat ini menjadi salah satu langkah yang diharapkan menjadi modal seluruh stakeholder di Jawa Barat untuk menjaga inflasi tahun 2024 untuk berada pada target yang ditetapkan.
Sekadar informasi, pada Juli 2024 tercatat inflasi year on year (y-on-y) Jawa Barat sebesar 2,25 persen. Adapun tingkat inflasi month to month (m-to-m) Juli 2024 sebesar 0,06 persen, dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) sebesar 1,16 persen.
"Dari data BPS, inflasi kita di tahun 2024 ini ternyata lebih rendah trennya jika dibandingkan dengan tahun 2023. Pada tahun 2023 kita bisa mencapai 2,48 persen, mudah-mudahan tahun ini bisa lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ungkap Nur kepada wartawan di Bandung pada Kamis, 8 Agustus 2024.
Selain itu, Nur berharap percepatan digitalisasi di Jawa Barat dapat membuat indeks pengendalian inflasi menjadi semakin baik, terutama dalam mendukung pembangunan di wilayah tersebut.
"Dengan digitalisasi dan elektronifikasi mudah-mudahan IETPD-nya (Indeks Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah) semakin bagus, dan itu semua tentunya akan sangat kita butuhkan dalam rangka kita mendukung kegiatan pembangunan di Jawa Barat supaya semakin lebih efisien dan juga semakin mendorong potensi-potensi yang ada di Jawa Barat," lanjut Nur.
Jawa baratBaca Juga: Partai Golkar Dukung Dedi Mulyadi di Jawa Barat, Pengamat Ungkap Alasan Ridwan Kamil Belum Pasti Berlaga di Pilkada Jakarta
Dalam kesempatan yang sama, Pj Gubernur Jawa Barat, Bey Machmudin menyampaikan, Pemprov Jabar akan senantiasa terus memastikan ketersediaan bahan pangan di daerah yang surplus hingga akan menyuplai daerah yang membutuhkan.
Bey menyampaikan, dengan terjaganya ketersediaan stok pangan suatu daerah demi menghindari kelangkaan pangan, hal tersebut pun dapat mengantisipasi kenaikan Harga bahan pangan.
"Kita akan memantau ke daeah-daerah agar tidak terjadi kekurangan stok atau ketidakadaan stok," katanya.
Baca Juga: 10 Kampus Negeri dan Swasta Terbaik di Bogor Jawa Barat, Ada yang Lulusannya Auto dapat Kerja Lho!
Tak hanya itu, Bey juga menambahkan pemantauan stok beras perdagangan antar daerah hingga pompanisasi dilakukan guna memastikan panen padi di Jawa arat tetap optimal di tahun 2024 ini.
"Kami mendapatkan 7000 pompa dari Kementan. ada beberapa (daeah)yang tadinya musim tanamnya Oktober, mereka akan menariknya ke Agustus. Jadi InsyaAllah masih ada satu lagi panen di akhir tahun ini. Jadi panennya tidak menyebrang ke 2025 tapi tetap di tahun ini," ujar Bey.