AYOJAKARTA.COM -- Wacana munculnya Koalisi Indonesia Maju Plus atau KIM Plus jelang Pilkada Jakarta, membawa dampak tekanan bagi sejumlah partai politik.
Tawaran untuk ikut mengusung kandidat yang dicalonkan KIM Plus dalam Pilkada Jakarta, turut melahirkan potensi adanya calon tunggal atau kotak kosong.
Guna memastikan perhelatan Pilkada Jakarta berjalan sesuai prinsip demokrasi, PDIP bersikeras akan menyajikan menu lain agar calon tunggal yang dikhawatirkan tidak terjadi.
Baca Juga: Sufmi Dasco Bantah KIM Plus Bukan untuk Jegal Anies Baswedan di Pilgub Jakarta
Pernyataan tersebut merupakan analisa yang disampaikan oleh Adi Prayitno selaku Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia.
Adi menilai kurangnya perolehan jumlah kursi di parlemen yang mengharuskan untuk terus meracik koalisi non KIM, menjadi kendala tersendiri bagi PDIP.
Tanpa tiket emas untuk bisa mencalonkan kadernya di ajang Pilkada Jakarta, membuat PDIP berada di tengah-tengah dilema.
Baca Juga: Akui Digoda KIM, PKS Tetap Prioritaskan Anies Baswedan dan Sohibul Iman di Pilgub Jakarta
Terlebih lagi karena tawaran untuk mendukung dan bergabung dalam KIM Plus memiliki sejumlah dampak politik selama lima tahun mendatang.
Satu-satunya jalan yang dapat ditempuh PDIP untuk mengintersep terjadinya calon tunggal tidak lain dengan bergabung bersama PKS yang sudah mengusung Anies Baswedan.
“Bicara soal elektabilitas dan popularitas Anies itu paling realistis, kalau PDIP mendukung Anies bukan tidak mungkin ada partai lain yang tergerak hatinya,” ungkapnya.
Dengan sejarah masa lalu antara Ahok dengan Anies yang berdampak cukup tebal dan berpengaruh, jalan tersebut menjadi lebih sukar untuk ditempuh.
Baca Juga: Koalisi PKS dan Nasdem Usung Anies Baswedan Mulai Goyah, PDIP Mau Kemana?
Meski demikian, Adi tidak menampik pernyataan dukungan PDIP terhadap Anies bisa mengubah atmosfir politik jelang Pilkada Jakarta.
Adanya keberanian dari PDIP untuk mendukung Anies, iman politik Koalisi Perubahan yang saat ini tengah mengalami guncangan bisa menjadi lebih stabil.
Terkait partai politik yang memiliki potensi cukup besar untuk bisa membantu PDIP mencegah calon tunggal, Adi menilai PKS merupakan kunci politik.
“PKS adalah satu-satunya partai politik yang kemudian akan membuka hati untuk berkoalisi dengan PDIP untuk mencegah kotak kosong,” tambah Adi.
Bergabungnya PDIP dan PKS menjadi kekuatan baru, akan berpeluang menarik Partai Nasdem untuk ikut bergabung.
Selain karena merupakan salah satu deklarator sebelum Nasdem menjadi parpol, Anies juga merupakan pribadi yang sudah berjiwa Biru-Nasdem.
Karena itu, PDIP perlu melakukan terobosan besar untuk benar-benar mencegah terjadinya calon tunggal atau kotak kosong.
Selain harus berani untuk berkoalisi dengan PKS yang sudah mencalonkan Anies, PDIP bisa bermanuver dengan memberi dukungan terhadap Calon Independen.
“Tapi kita tahu kalau calon Independen itu elektabilitas dan popularitasnya tidak pernah muncul di survei,” pungkasnya.***