AYOJAKARTA.COM - Psikolog Forensik Reza Indragiri menanggapi Liga Akbar dan Dede Irwanto yang mengaku telah memberikan kesaksian palsu dalam kasus pembunuhan Vina Cirebon pada 2016 lalu.
Reza Indragiri menyampaikan bahwa pengakuan yang disampaikan Liga Akbar dan Dede bagaikan angin segar.
Pengakuan keduanya mungkin menyenangkan masyarakat yang memandang bahwa terpidana kasus Vina Cirebon merupakan korban salah tangkap.
Akan tetapi, Reza Indragiri mengatakan bahwa psikologi forensik menyimpulkan bahwa keterangan manusia merupakan barang yang potensial menganggu pengungkapan fakta.
“Tapi harus saya katakan sejak awal yang namanya keterangan manusia itu disimpulkan oleh psikologi forensik sebagai barang yang paling potensial mengganggu pengungkapan fakta. Dalam kata lain, keterangan mau pakai kata pengakuan, kesaksian mata, itu adalah barang yang paling merusak proses penegakan hukum. Jadi rekomendasinya jangan mengandalkan pada keterangan,” kata Reza dikutip dari kanal YouTube Kompas TV pada Jumat (26/7/2024).
Reza menegaskan bahwa dirinya harus memandang keterangan yang disampaikan pada 2016 dan 2024 sebagai barang yang potensial mengganggu pengungkapan fakta.
Bahkan, dirinya pun mempertanyakan alasan untuk percaya keterangan Liga Akbar dan Dede di tahun 2024 merupakan keterangan yang paling jujur.
“Alhasil saya harus konsekuen dong, keterangan versi 2024, keterangan versi 2016 tetap harus saya pandang sebagai barang yang paling potensial mengganggu pengungkapan fakta. Makanya ‘saya tantang’ apa alasan bagi saya untuk percaya bahwa keterangan dari Liga Akbar dan Dede di tahun 2024 adalah jujur sejujur-jujurnya?” tegasnya.
Reza menjelaskan bahwa keterangan yang disampaikan pada tahun 2016 dan 2024 sama-sama mengandalkan daya ingat.
Dalam hal ini, yang menjadi masalah adalah daya ingat rentan mengalami fragmentasi dan distorsi.
Meski begitu, Reza menilai tidak ada yang salah apabila keterangan terbaru ingin dijadikan sebagai bukti baru atau novum.
Tetapi, Reza mengingatkan agar keterangan disertai dengan bukti-bukti tambahan.
“Karena sama saja keterangan yang diberikan pada tahun ini dengan 2016 sama-sama mengandalkan daya ingat mereka, daya ingat yang rentan mengalami fragmentasi dan distorsi, sama saja. Dengan demikian kalau kemudian keterangan-keterangan baru ini mau dijadikan sebagai novum, tidak salah. Tetapi ada baiknya disertai dengan bukti-bukti tambahan berikutnya,” tutupnya.***