AYOJAKARTA.COM - Ditengah kecaman dunia terhadap Israel, sejumlah tokoh NU atau Nahdlatul Ulama diketahui melakukan pertemuan dengan Presiden Isaac Herzog.
Buntut dari pertemuan Presiden Israel Isaac Herzog dengan warga Indonesia yang merupakan tokoh-tokoh NU atau Nahdlatul Ulama, kini menjadi polemik.
Sehubungan dengan adanya pertemuan lima pemuda NU atau Nahdlatul Ulama dengan Presiden Israel Isaac Herzog, Jubir Kemenlu akhirnya angkat bicara.
Dalam keterangan resminya, Roy Soemirat menyebut bahwa kunjungan para warga Nahdliyin ke Presiden Israel bukan merupakan sikap pemerintah Indonesia.
Baca Juga: Capai 3.848 Pendaftar, Inilah 9 Fakultas Paling Ramai Peminat di Institut Teknologi Bandung (ITB)
“Dapat saya tekankan bahwa kunjungan tersebut tidak terkait dalam bentuk apapun dengan posisi resmi pemerintah Indonesia,” tegas Roy Soemirat dikutip dari kanal YouTube tvOneNews, Rabu (17/7/2024)
Karena itu, selaku Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Roy meminta agar seluruh pihak mempertanyakan hal tersebut ke pihak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
Pernyataan kunjungan lima warga NU ke Israel yang tidak berkaitan dengan pemerintah Indonesia, juga disampaikan oleh Saiful Rahmat Dasuki selaku Wakil Menteri Agama.
Kunjungan lima warga NU ke Israel untuk menemui Presiden Isaac Herzog, dinilai oleh banyak kalangan sebagai bentuk kejanggalan.
Sebab dukungan pemerintah Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, hingga hari ini masih menjadi sikap politik.
Ramainya sorotan terhadap lima tokoh Nahdlatul Ulama terkait pertemuan dengan Presiden Israel, bermula dari unggahan di sejumlah media.
Selain Syukron Makmun, Zainul Maarif, Munawar Aziz dan Nurul Bahrul Ulum diantara warga NU tersebut juga terdapat Iza Nafisah.
Terkait dengan adanya unggahan lima warga NU yang kini menuai beragam sorotan, Savic Ali selaku Ketua PBNU Bidang Media, IT dan Advokasi memberi tanggapan.
“PBNU juga tidak tahu apa agenda sejumlah kader ini ke Israel, dan kita tidak tahu disana acaranya apa saja,” ungkap Savic
Lebih lanjut, Savic menyebut alasan ketidak-tahuan PBNU tersebut dikarenakan tidak adanya konsolidasi antara kelima Nahdliyin dengan Pengurus NU.
Sebagaimana dengan masyarakat Indonesia lainnya, Savic menyebut informasi terkait kunjungan lima Nahdliyin baru diketahui melalui unggahan foto.
Mengingat situasi geopolitik yang terjadi, kunjungan lima warga Nahdliyin ke Israel merupakan hal mengejutkan.
“Tentu ini sangat menyesalkan dan menyedihkan, disaat kita tahu Israel masih menjatuhkan bom ke warga Palestina,” imbuh Savic.
Kunjungan warga NU ke Israel, menurut Profesor Hikmahanto Juwana selaku Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, berpotensi dimanfaatkan.
“Menurut saya, kenaifan lima WNI ini telah dimanfaatkan oleh Israel, apalagi mereka berfoto dengan Presiden,” tegasnya. ***