AYOJAKARTA.COM – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menjadi pusat perhatian setelah dijuluki "Gubernur Lambe Turah" oleh seorang anggota DPR RI.
Julukan itu muncul dalam rapat Komisi X DPR bersama Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) yang digelar pada Rabu, 21 Mei 2025.
Julukan tersebut dilontarkan oleh Andi Muawiyah Ramly dari Fraksi PKB sebagai bentuk kritik terhadap absennya KORMI Jawa Barat dalam gelaran Festival Olahraga Nasional (Fornas) ke-8 yang berlangsung di Nusa Tenggara Barat.
Baca Juga: Cek Fakta! Apakah Bansos PKH Tahap 2 Tahun 2025 Sudah Masuk Tahapan Final Closing? Ini Penjelasannya
DPR Soroti Prioritas Anggaran Dedi Mulyadi
Dalam rapat tersebut, Andi mempertanyakan komitmen Pemprov Jawa Barat di bawah kepemimpinan Dedi Mulyadi terhadap pengembangan olahraga masyarakat.
Ia menyebut absennya delegasi dari Jawa Barat sebagai sinyal lemahnya perhatian pada bidang tersebut.
“Pak Dedi bisa menjanjikan bantuan besar bagi UMKM, bahkan menyatakan hal-hal sensasional di publik. Tapi saat bicara soal kehadiran di ajang olahraga nasional, justru tak ada delegasi yang dikirim. Ini mengundang pertanyaan besar,” ujar Andi, yang kemudian menjuluki Dedi sebagai Gubernur Lambe Turah.
Ia juga membandingkan prioritas anggaran Dedi yang disebut-sebut lebih condong ke program-program dengan efek viral dibanding partisipasi dalam kegiatan olahraga masyarakat.
Respons Santai Dedi Mulyadi
Menanggapi pernyataan tersebut, Dedi Mulyadi tidak menunjukkan kemarahan atau reaksi keras.
Justru, ia menanggapinya dengan guyonan saat hadir dalam acara Abdi Nagri Nganjang Ka Warga di Desa Panjalin Kidul, Majalengka, pada malam hari di tanggal yang sama.
“Keun we, ayeuna mah loba nu hayang asup ka Lambe Turah. (Biar saja, sekarang juga banyak yang ingin viral di Lambe Turah),” katanya sambil tertawa, yang langsung disambut riuh warga.
Menurut Dedi, gelar atau julukan bukanlah hal esensial. Ia lebih memilih fokus pada pencapaian janji-janji politiknya kepada masyarakat.
“Disebut apapun juga tidak penting. Yang utama adalah bagaimana janji kepada rakyat direalisasikan,” tegasnya.
Julukan yang Picu Perdebatan Publik
Pernyataan Andi Muawiyah dan julukan yang ia lontarkan memunculkan kembali diskursus publik mengenai gaya komunikasi politik dan prioritas anggaran kepala daerah.
Sementara sebagian pihak mengkritisi pendekatan Dedi, tak sedikit pula yang menilai bahwa Gubernur Jawa Barat tersebut memiliki cara tersendiri dalam menjangkau masyarakat bawah.
Dedi Mulyadi, yang dikenal aktif turun langsung ke lapangan dan blusukan ke pelosok desa, selama ini memang memiliki gaya komunikasi yang unik, kerap viral, dan dekat dengan warga.
Namun kini, sorotan terhadap keputusan-keputusan anggarannya menjadi perhatian serius di tingkat nasional, termasuk oleh para wakil rakyat di DPR.***