AYOJAKARTA.COM – Di tengah beredarnya rencana aksi demonstrasi akbar yang dilakukan ratusan ribu mitra Ojol, wacana akan adanya akuisisi atau merger kini mulai berhembus kencang.
Meski masih bersifat wacana, kabar akan terjadinya akuisisi perusahaan Gojek-Tokopedia atau Goto oleh Grab, mulai menyentil rasa nasionalisme jutaan mitra Ojol.
Selain mitra Ojol yang menggantungkan hidup dari pendapatan harian, jutaan merchant UMKM juga telah menyatu dengan iklim usaha perusahaan aplikasi Karya Anak Bangsa.
Baca Juga: BRI Dukung Purwokerto Half Marathon 2025, Dorong Sport Tourism dan UMKM Lokal Melaju
Terlebih rumor akan adanya akuisisi perusahaan GoTo oleh Grab, sudah lebih dulu menjadi salah satu perbincangan paling hangat di Singapura.
Bahkan narasi akan adanya pernikahan bisnis antara GoTo dengan Grab juga sempat diulas oleh salah satu media terkenal Reuters pada 7 Mei 2025 lalu.
Memiliki pangsa pasar mencapai lebih dari 270 juta orang di seluruh Indonesia, wacana pengambilalihan GoTo oleh Grab membuat sifat nasionalisme banyak pihak menggeliat.
Bukan semata-mata karena menyangkut bidang usaha digital yang digunakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga karena menyentuh aspek kepentingan nasional.
Selain itu, wacana akuisisi GoTo oleh Grab juga dipercaya berkaitan dengan Kedaulatan Data dari sebagian besar pengguna yang umumnya merupakan masyarakat Indonesia.
Baca Juga: Panas! Ucapan Dedi Mulyadi Ini Bikin Anggota DPRD dari Fraksi PDIP Walk Out di Paripurna Jabar, Apa?
Potensi lain yang tentu saja akan muncul jika akuisisi GoTo benar-benar terjadi adalah penyesuaian struktur organisasi, sehingga berdampak pada sektor lapangan pekerjaan.
Untuk dapat mencapai profit yang ditargetkan perusahaan, efisiensi dari kedua perusahaan bukan saja dapat berdampak pada pengurangan jumlah karyawan; tetapi juga mitra.
Adanya wacana penggabungan dua perusahaan aplikator dengan corak budaya serta negara berbeda, juga membuat jaring pengamanan ekonomi nasional mulai dipertanyakan.
Wacana akan adanya akuisisi GoTo oleh Grab sebagai salah satu platform digital asing, membuat banyak pihak mempertanyakan peran pemerintah.
Bukan semata karena menyangkut hajat hidup perekonomian orang banyak, tetapi juga potensi terjadinya hegemoni data yang terjadi pasca akuisisi.
Guna melancarkan ekspansinya di Indonesia, pihak Grab selain telah melakukan negosiasi dengan GoTo juga menggandeng sejumlah lembaga pembiayaan.
Dilansir dari Reuters edisi 7 Mei 2025 lalu, nilai transaksi akuisisi yang sudah ditawarkan pihak Grab kepada GoTo mencapai angka US$ 7 Juta.
Menurut Profesor Rhenald Kasali, penggabungan dari dua bidang usaha sejenis bukan untuk saling melengkapi melainkan mencari efisiensi dan memperluas pasar.
Sehingga berbagai macam jenis lini di dalam organisasi yang memiliki fungsi setara akan diminimalkan atau bahkan dihilangkan, termasuk kendali atas kebijakan. ***