News

Biaya Kuliah Mahal, Universitas Muhammadiyah Maumere Hidupkan Sistem Barter

Oleh: Karseno AJ Jumat 31 Mei 2024, 07:50 WIB
Demo Kenaikan Biaya UKT

AYOJAKARTA.COM – Mahalnya biaya kuliah di hampir banyak perguruan tinggi negeri Indonesia menjadi kendala tersendiri bagi para mahasiswa.

Selain menjadi akar keluhan para mahasiswa, biaya kuliah yang semakin melambung juga mendatangkan berbagai persoalan akademik.

Namun keluhan tentang tingginya biaya kuliah yang dirasakan kebanyakan mahasiswa, justru berhasil diredam  Universitas Muhammadiyah Maumere.

Berbeda dengan perguruan tinggi lain di Indonesia, Universitas Muhammadiyah Maumere yang berdiri pada 2013 memberi kelonggaran kepada para mahasiswanya.

Baca Juga: 10 PTN dengan Jurusan Komunikasi dan Studi Media Terbaik di Indonesia versi THE WUR by Subject 2024, Ada Kampusmu?

Universitas Muhammadiyah Maumere yang berada di Kabupaten Sikka Nusa Tenggara Timur mengizinkan para mahasiswa membayar biaya kuliah dengan hasil bumi.

Melalui kebijakan tersebut, mahasiswa bukan saja dapat membayar biaya kuliah dengan uang tunai tetapi juga komoditas pertanian.

Hasil bumi seperti Kemiri, Kelapa, Pisang, Cengkeh dan Coklat merupakan komoditas pertanian yang dapat dijadikan sebagai pelengkap biaya pendidikan.

Selain hasil bumi dan uang tunai, pihak kampus juga memberikan kesempatan luas bagi mahasiswa peserta KIP Kuliah serta Lembaga Amil Zakat.

Baca Juga: 10 SD Terbaik Di Kepulauan Seribu Berdasarkan BANSM Kemdikbud

Menurut Erwin Prasetyo selaku Rektor, kebijakan terkait hasil bumi tersebut mulai diterapkan pada tahun 2019 saat pandemi Covid-19 masih menghantui.

Berawal dari situasi pelik yang tengah dihadapi oleh peserta didik dari keluarga kurang mampu, kebijakan memberlakukan hasil bumi pertama kali diberlakukan.

“Orang di kampung saat itu kalau melepas hasil bumi harus menunggu orang kota, baru ada transaksi jual beli,” jelas Erwin Prasetyo dikutip ayojakarta.com dari YouTube Metro TV, Jumat (31/5/2024).

Setelah dibeli habis sejumlah orang yang merupakan bagian dari civitas, hasil transaksi komoditi hasil bumi tersebut selanjutnya digunakan sebagai biaya pendidikan.

Baca Juga: Tingkat Persaingan Tinggi! Ini 5 Sekolah Kedinasan dengan Jumlah Pelamar Terbanyak di Tahun 2024, IPDN Paling Diminati

Selain karena keluarga mahasiswa rentan mengalami kendala geografis, kendala akses komunikasi juga membuat pihak kampus membuat kebijakan berbeda.

Dari peristiwa tersebut, program membayar biaya kuliah dengan hasil bumi dan laut kemudian diberlakukan hingga saat ini.

Kebijakan tersebut memungkinkan  mahasiswa bisa menempuh pendidikan tinggi tanpa terkendala biaya.

Baca Juga: Dibuka Juni! 66.848 Kuota Formasi CPNS 2024 di 11 Kementerian dan Lembaga Sudah Rilis, Cek Masing-masing Instansi

Berbagai kemudahan yang ditawarkan menurut Erwin merupakan salah satu cara kampus untuk bisa memudahkan para mahasiswa.

“Jadi bisa cash bisa juga lewat hasil bumi, kita menjembatani masyarakat di Sikka untuk menikmati pendidikan dengan kemudahan-kemudahan itu,” jelas Erwin.

Menurut mahasiswa, kebijakan yang ditempuh kampus terkait dengan komoditi hasil bumi sebagai penopang akademi dinilai sangat membantu dan meringankan.

Selain menggunakan hasil bumi, mahasiswa juga merasa lebih ringan karena kampus juga menerima pembayaran dengan komoditi hasil laut.***

Reporter Karseno AJ
Editor Fathul Amanah