News

Ramai Jadi Sorotan, Program Barak Dedi Mulyadi untuk Anak Nakal tuai Respons Positif dari Peserta dan Orang Tuanya, Seperti Apa?

Oleh: Karseno AJ Senin 12 Mei 2025, 16:03 WIB
Dedi Mulyadi

AYOJAKARTA.COM – Usai menggantikan Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jawa Barat, nama Dedi Mulyadi atau akrab disapa Kang Dedi nyaris tidak berhenti menjadi sorotan media.

Selain karena sejumlah kebijakan yang dianggap oleh sebagian kalangan tidak biasa, Dedi Mulyadi juga disorot karena beragam rutinitas yang dibagikan lewat kanal Youtube-nya.

Dianggap sangat dekat dengan kalangan akar rumput, sejumlah kalangan kemudian menjuluki Dedi Mulyadi sebagai Bapak Aing atau Orang Tua Saya.

Baca Juga: Adopsi Gaya Tashirojima di Jepang, Pemprov Jakarta Siapkan Pulau Tidung Kecil sebagai Lokasi Pulau Kucing Pertama

Selain wacana vasektomi sebagai salah satu syarat penerimaan bansos yang masih hangat diperdebatkan, Kang Dedi juga menuai kritik karena program Wajib Militer bagi anak nakal.

Meski bersifat sukarela atau atas persetujuan dari Guru di Sekolah dan Orang Tua di rumah, program Wajib Militer gagasan Kang Dedi sempat menuai kontroversi.

Selain datang dari Menteri HAM dan pegiat kemanusiaan, kritik juga datang dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI.

Dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali kedisiplinan yang pudar akibat gencarnya negativitas peradaban, siswa atau remaja bermasalah diharuskan belajar ala militer.

Sempat menjadi momok mengerikan di kalangan peserta, siswa atau remaja bermasalah justru mendapati perspektif berbeda setelah mengikuti Wajib Militer ala Kang Dedi.

Melalui sebuah unggahan video, orang tua peserta wamil besutan Kang Dedi justru kembali terikat secara emosional dengan anak.

Selain Orang tua, ekspresi penuh penyesalan juga ditunjukan oleh anak bermasalah yang menjadi peserta Wamil.

Baca Juga: Hebat Banget! Inilah Sosok Umar Mustofa Asal Tegal yang Bikin Kolektor Dunia Kagum, Karena Apa?

Melihat situasi penuh ikatan emosi antara anak dengan orang tua, tidak sedikit warganet yang kemudian mengapresiasi pemikiran Kang Dedi dengan Wamilnya.

Disamping wamil dan vasektomi, pendapat Kang Dedi Mulyadi juga sempat menuai sorotan adalah penempatan istilah haram yang kurang berorientasi pada kesadaran dan kondisi diri.

Mengkonsumsi asupan gula atau pewarna makanan serta jenis makanan lain secara berlebih hingga merusak sistem tubuh, menurut Dedi lebih butuh perhatian.

Bukan sekedar mengacu pada Daging Babi, gagasan tentang asupan haram menurut Kang Dedi juga perlu diperluas sehingga kesehatan masyarakat lebih terjamin.

“Ada nggak sih kita berani mengatakan sesuatu itu haram karena membahayakan? kita sibuk pada hal yang sudah jelas orang menghindarinya,” tegas Dedi 

Dikenal karena sejumlah gagasan untuk memperbaiki keadaan, tidak sedikit masyarakat di luar Jawa Barat berharap memiliki Pemimpin seperti Kang Dedi Mulyadi.

Pentingnya rasa syukur karena memiliki pemimpin seperti Kang Dedi Mulyadi, sempat disampaikan seorang penceramah saat berada di tengah masyarakat.

“Kita wajib bersyukur karena Jawa Barat dipimpin oleh Kang Dedi Supardi, hidup Kang Dedi Supardi,” ujar Kyai setempat di hadapan warga Jawa Barat.

Meski salah ucap menjadi Dedi Supardi, Kang Dedi Mulyadi serta masyarakat yang hadir di acara tersebut hanya tersenyum menahan tawa.  ***

Reporter Karseno AJ
Editor Jinan Vania Barizky