AYOJAKARTA.COM – Presiden Republik Indonesia ke-8, Prabowo Subianto, akhirnya angkat bicara soal polemik ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang belakangan ramai diperbincangkan publik.
Dalam rapat internal bersama jajaran menterinya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/5/2025), Prabowo menyampaikan keheranannya terhadap pihak-pihak yang terus mempermasalahkan keaslian ijazah Joko Widodo.
Pernyataan itu disampaikan Presiden saat menanggapi tudingan yang menyebut dirinya sebagai “presiden boneka” yang dikendalikan oleh Joko Widodo.
Baca Juga: Viral! Nana Mirdad Bantah Tudingan Nunggak Bayar Pinjol: Sudah Bayar Tapi Masih Diteror!
Dengan tegas, ia membantah anggapan tersebut dan menjelaskan bahwa hubungannya dengan Jokowi semata-mata adalah bentuk komunikasi antara pemimpin yang saling menghormati.
"Saya dikatakan sebagai presiden boneka, seolah-olah saya dikendalikan Pak Jokowi, seperti tiap malam ditelepon dan diarahkan. Saya katakan, itu tidak benar," ujar Prabowo di hadapan para menteri kabinetnya.
Ia menekankan bahwa dirinya memang beberapa kali berkonsultasi dengan Jokowi, karena sebagai mantan kepala negara yang telah memimpin selama satu dekade dan memiliki pengalaman yang layak didengar.
Dalam suasana rapat yang sempat cair oleh candaan, Prabowo juga menyampaikan gurauan bahwa jika memungkinkan, ia pun akan menghadap Presiden Gus Dur, Soeharto, hingga Bung Karno.
Namun di tengah pernyataannya, ia mulai serius menyinggung soal isu sensitif yang menerpa Presiden RI ke-7 itu, yaitu tudingan terkait keaslian ijazah sarjananya.
Lebih lanjut, Presiden menyindir bahwa jika persoalan ijazah terus dipermasalahkan tanpa dasar, bukan tidak mungkin ke depan ijazah miliknya juga akan dipertanyakan.
Presiden Prabowo menilai, persoalan ijazah bukanlah hal yang relevan untuk dipermasalahkan setelah seorang tokoh telah menyelesaikan masa jabatan dengan legitimasi konstitusional dan pengakuan publik.
Menurutnya, lebih baik fokus pada kinerja dan kontribusi terhadap bangsa.
Ia juga mengingatkan bahwa membangun narasi fitnah terhadap tokoh nasional bukan hanya merusak citra pribadi, tetapi juga bisa berdampak buruk terhadap kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Presiden juga menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri dalam menyebarkan isu-isu yang belum terbukti kebenarannya.
Apalagi jika hal itu berkaitan dengan kehormatan dan martabat seseorang yang telah lama mengabdi untuk bangsa dan negara.
"Kalau ada yang punya bukti, silakan bawa ke jalur hukum. Tapi jangan asal bicara di media sosial tanpa dasar," lanjutnya.
Pernyataan ini secara tidak langsung memberikan dukungan moral kepada Jokowi yang saat ini tengah menghadapi laporan-laporan terkait tuduhan ijazah palsu.
Bahkan, Prabowo tampak ingin meredam eskalasi isu tersebut agar tidak terus berkembang liar di tengah masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga etika berpolitik dan berdemokrasi. Ia mengingatkan bahwa meskipun kebebasan berpendapat dijamin oleh konstitusi, hal itu tetap harus disertai tanggung jawab.
Pernyataan Prabowo ini sekaligus mempertegas posisinya sebagai pemimpin yang berkomitmen menjaga stabilitas nasional dan keharmonisan antar tokoh bangsa.
Ia berharap masyarakat lebih fokus pada pembangunan dan kemajuan negara, ketimbang mengurusi isu yang tidak produktif.***