AYOJAKARTA.COM – Ahli Digital Forensik Rismon Sianipar terus menguliti dugaan rekayasa video CCTV kasus Jessica Kumala Wongso yang dilakukan oleh Muhammad Nuh Al Azhar.
Rismon Sianipar mengatakan Muhammad Nuh dan Jaksa Hari Wibowo bersandiwara untuk meyakinkan hakim bahwa video CCTV kasus Jessica Kumala Wongso merupakan video otentik dan tidak ada editing.
Ia menyebut sandiwara terus diulangi keduanya demi meyakinkan hakim dalam kasus Jessica Kumala Wongso.
“Dia menipu terus drama mereka, sandiwara mereka ini meyakinkan hakim untuk kasus ini tidak ada editing. Lagi dan lagi diulangi terus penipuan itu,” kata Rismon Sianipar dikutip ayojakarta.com dari YouTube Balige Academy pada Minggu (17/3/2024).
Dalam sidang, Muhammad Nuh sempat menyampaikan bahwa ia membuat video CCTV tersebut semakin bagus dengan meningkatkan resolusi.
Sayangnya, Rismon menilai apa yang dilakukan Muhammad Nuh justru sebaliknya yakni menurunkan resolusi.
Rismon yakin rekayasa video CCTV ini sudah dikoordinasikan Krishna Murti yang saat itu menjabat sebagai Wakapolda Lampung.
Ia pun berharap pihak kepolisian bisa ikut memeriksa beberapa polisi yang diduga terlibat dalam rekayasa video CCTV tersebut.
“Membuat resolusi makin bagus. Itulah penipuannya Muhammad Nuh dengan Hari Wibowo, karena mereka sudah latihan dikoordinasi oleh Krishna Murti sebelum si penipu ini maju. Makanya saya bilang sama Pak Kapolri periksa mulai dari Krishna Murti dan Tito Karnavian. Kok bisa mereka enggak tahu kalau enggak tahu seberapa dalam keterlibatan mereka dalam merekayasa ini. Kita tingkatkan resolusi, bohong besar, dusta besar,” ujarnya.
Baca Juga: Rismon Sianipar Singgung Nama Rosiana Silalahi dan Karni Ilyas, Minta Bantu Kasus Jessica Wongso?
Tidak hanya Muhammad Nuh, sosok lain yang diduga melakukan rekayasa CCTV kasus Jessica Wongso adalah Christopher Hariman Rianto.
Rismon menjelaskan keduanya telah merekayasa kamera CCTV 7 pukul 17:17 – 18:39 WIB dengan mengecilkan resolusi frame dari 1080P menjadi 960H untuk memanipulasi sedotan.
Padahal menurutnya, video tersebut sangat penting untuk mengetahui letak sedotan yang dipakai Wayan Mirna Salihin untuk minum kopi.
“Satu menit sebelum Mirna datang justru dia lakukan downscaling yang harusnya tajam frame itu 1920 x 1080 piksel dengan laju frame halus dibuat kerdil ukuran frame jadi 960 x 576 piksel. Dilakukan downscaling bahkan temporalnya juga dibuat kasar, laju frame menjadi 10 fps. Padahal di situ menentukan posisi sedotan yang maha penting apakah di atas meja atau sudah ada di dalam gelas,” pungkasnya.***