AYOJAKARTA.COM – Ahli Digital Forensik Rismon Sianipar terus membongkar dugaan rekayasa CCTV kasus Jessica Kumala Wongso yang dilakukan Muhammad Nuh Al-Azhar.
Rismon Sianipar menilai Muhammad Nuh Al-Azhar tidak hanya sekedar merekayasa, tetapi juga meyakinkan hakim kasus Jessica Kumala Wongso bahwa video CCTV yang dihadirkan sama sekali tidak diedit.
Hal ini diketahui pada saat sidang Muhammad Nuh menyampaikan bahwa video yang dihadirkan sama sekali tidak ada editing dan benar adanya.
Baca Juga: Yess! BLT Mitigasi Risiko Pangan Sudah Ada Jadwal Cairnya, Cair Rp600 Ribu Melalui PT Pos Indonesia
Kemudian, Muhammad Nuh juga menjelaskan mengenai enhancement yaitu meningkatkan kualitas video.
Rismon Sianipar mengatakan apa yang disampaikan oleh Muhammad Nuh justru tidak sesuai dengan tindakannya.
“Poinnya tidak ada editing, kalau resolusi rendah kita buat resolusi tinggi. Padahal yang dilakukan adalah rekayasa video CCTV yang seharusnya tinggi 1080P dia turunkan ya sesuai meta datanya di BAP-nya menjadi resolusi rendah dari Full HD menjadi Standard Definition,” kata Rismon dikutip dari kanal YouTube Balige Academy, Jumat (15/3/2024).
Rismon menjelaskan Muhammad Nuh melakukan downscaling pada rekaman CCTV kamera 7, tepatnya pada pukul 15:57.
Akibat downscaling tersebut, kualitas video CCTV tersebut turun dari 1920 x 1080 piksel menjadi 960 x 576 piksel.
Baca Juga: Catat! Ini Dia 10 Prodi yang Paling Sepi Peminat di UNDIP, Referensi SNBT 2024
Rismon mengungkapkan seharusnya video CCTV yang dihadirkan memiliki kualitas yang tinggi sehingga objek-objek terlihat tajam.
“Pengakuannya tadi kalau resolusi rendah kita tinggikan. Padahal yang dilakukan adalah sebaliknya. Seharusnya tajam, objek-objeknya tajam menjadi kabur akibat downscaling,” jelasnya.
Kemudian, Rismon mengungkapkan dalam video CCTV asli terdapat 2 juta piksel per frame.
Sayangnya, sebanyak 1,5 juta frame dalam video tersebut hilang akibat downscaling tersebut.
“Harusnya ada 2 juta piksel per frame menjadi hanya 550.000 piksel per frame. 1,5 juta piksel dibuang dalam 1 frame. Yang harusnya 25 frame per detik ini menjadi laju framenya di metadata menjadi variabel. Suka-suka dia disetting,” pungkasnya.***