News

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadhan Jauh-jauh Hari Sebelumnya, Simak Penjelasannya

Oleh: Sucipto Minggu 10 Mar 2024, 15:02 WIB
Muhammadiyah tetapkan 1 puasa Ramadhan 2024 pada 11 Maret

AYOJAKARTA.COM – Berbeda dengan BRIN dan NU, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan sejak bulan Januari lalu.

Bukan hanya 1 Ramadhan, Muhammadiyah juga jauh-jauh hari menetapkan 1 Syawal (Idul Fitri) dan 10 Dzulhijjah (Idul Adha).

Penetapan 1 Ramadhan ini disampaikan oleh Sekjen PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti pada 20 Januari lalu di Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta.

Muhammad Sayuti menjelaskan bahwa penetapan tersebut menggunakan metode Hisab Wujudul Hilal Hakiki.

Baca Juga: Trinspirasi Dari Singapura, Sandiaga Uno Siapkan Dana Hingga 2 Triliun Untuk Gelar Konser Artis Internasional

Dikutip ayojakarta.com dari muhammadiyah.or.id, beliau berharap bahwa maklumat PP Muhammadiyah ini diikuti oleh seluruh warga Muhammadiyah.

Maklumat bernomor 1/MLM/I.0/E2024 ini telah ditandatangani oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dan Sekum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti pada 12 Januari lalu.

Perbedaan penetapan 1 Ramadhan antara Muhammadiyah dengan BRIN maupun NU itu sudah berlangsung lama.

Hal ini menunjukkan kemajemukan beragama di Indonesia dan berlangsung dalam suasana damai dan saling menghormati.

Baca Juga: Tes Kepribadian: Pilih Satu Gambar dan Lihat Apa yang Akan Meninggalkan Hidupmu, Apakah Cinta yang Pergi?

Perbedaan tersebut hanyalah karena metode yang digunakan berbeda dan hanya berjarak 1 hari, jadi tidak begitu signifikan dalam melaksanakan ibadah puasa di Indonesia.

KH Sirril Wafa, ketua LF PBNU, menekankan pentingnya saling menghormati dalam perbedaan pelaksanaan ibadah, khususnya selama bulan Ramadhan.

Menurut KH Sirril, setiap tahunnya umat Islam di Indonesia mengalami perbedaan dalam pelaksanaan ibadah, terutama awal dan akhir Ramadhan.

Baca Juga: Aduan di Dumas DPR RI Zonk, Rismon Sianipar Minta Kapolri Listyo Sigit Prabowo Bertindak Tangani Kasus Jessica Wongso

KH Sirril Waffa, sebagaimana dilansir ayojakarta.com dari website resmi NU online, mengatakan bahwa pengalaman yang telah berpuluh-puluh tahun bagi umat Islam mestinya cukup menjadi pelajaran.

Beliau mengatakan bahwa perbedaan dalam masalah furu'iyah (masalah cabang) bukan prinsip akidah keimanan (ushuliyah) itu sangat dimungkinkan.

Ketua LFPBNU yang juga Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, mengatakan pentingnya tokoh agama dan umat Islam secara keseluruhan untuk meredam sentimen saling menyalahkan dalam pelaksanaan ibadah.***

Baca Juga: Influencer Wajib Simak, 8 Kampus Ini Buka Jalur Seleksi Untuk Kalian

Reporter Sucipto
Editor Imanudin Abdurohman