AYOJAKARTA.COM — Puluhan warga Benuang, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten PALI, Provinsi Sumatera Selatan, melarang pihak Pertamina Adera untuk membersihkan bekas ceceran minyak mentah yang keluar dari pipa milik perusahaan plat merah tersebut yang bocor.
Bukan tanpa alasan puluhan warga Desa Benuang melarang pihak Pertamina Adera membersihkan bekas leleran minyak mentah yang keluar dari pipa yang bocor, lantaran warga tidak mau jadi korban PHP lagi dari perusahaan tersebut.
Pasalnya, pada awal Januari lalu di lokasi yang sama, terjadi kebocoran pipa milik Pertamina Adera yang menyebabkan puluhan Kepala Keluarga (KK) mengungsi akibat takut terjadi hal yang tidak diinginkan.
Tetapi pasca kejadian, hingga saat ini pihak Pertamina Adera tak kunjung memberikan tali asih maupun mengganti kerugian yang dialami warga.
Di mana saat itu, semburan minyak yang keluar dari pipa bocor mengalir masuk kebun warga serta mencemari sejumlah sumur.
Atas kejadian yang lalu itu, menjadi pelajaran warga agar tidak menjadi korban janji pihak Pertamina Adera yang seolah hilang pasca kejadian.
Padahal menurut sejumlah warga, penyebab pipa bocor diduga akibat korosi atau pipa lapuk termakan usia yang kurang dipantau oleh pihak Pertamina Adera.
"Kini terjadi lagi di lokasi yang sama. Pada kejadian kali ini telah berlangsung lebih dari satu pekan," ungkap Edi, salah satu warga setempat kepada media, Sabtu 9 Maret 2024.
Diakui Edi bahwa warga telah memberikan informasi terkait pipa yang bocor itu ke pihak Pertamina Adera, namun yang datang hanya pekerja yang akan membersihkan leleran minyak mentah.
"Sesuai kesepakatan warga bahwa kami tidak akan mengizinkan pihak perusahaan membersihkan sisa minyak yang mencemari lingkungan kami sebelum ada kejelasan," tegas Edi.
Pada kejadian tersebut, Edi menyebut bahwa leleran minyak mentah yang keluar dari pipa yang bocor sudah menyebar luas masuk ke kebun milik warga.
"Minyak mentah telah mencemari lingkungan dan masuk ke kebun kelapa sawit kami serta kebun karet warga lain. Bahkan ada sumur bor warga yang tidak bisa digunakan airnya lantaran berbau minyak mentah," sebutnya.
Juga dikatakan Pesi, warga lainnya yang mengaku pihak Pertamina Adera menghilang pasca kejadian yang lalu.
Padahal saat itu warga hanya meminta tali asih sebesar Rp1 juta per KK, namun pihak Adera menyanggupi Rp300 ribu per KK.
"Tawar menawar itu tidak ada kesepakatan, dan pihak Pertamina Adera tak lagi muncul pasca pertemuan itu," kata Pesi.
Atas pengalaman itu, warga trauma dan tidak mau lagi untuk kedua kalinya menjadi korban janji manis pihak Pertamina Adera.
"Kami tidak akan izinkan minyak mentah yang mencemari lingkungan dibersihkan. Kami akan adukan kejadian ini ke Bupati, DPRD dan SKK Migas agar perusahaan bertanggungjawab," tandasnya.
Pesi juga menyatakan bahwa pihak Pertamina menduga ada warga yang usil dengan menumpahkan minyak dipinggir jalan.
Tetapi setelah digali oleh pekerja, ternyata minyak mentah memang menyembul dari dalam tanah arah lokasi pipa berada.
"Kemunculan minyak keluar disebarang jalan dimana lokasi pipa berada. Dari situlah mungkin pihak Pertamina meragukan kalau minyak itu berasal dari pipa bocor. Tetapi saat kami izinkan pekerja menggali tanah yang muncul minyak, terlihat jelas minyak mengalir dari arah seberang jalan. Setelah terbukti adanya pipa bocor, maka kami akan tuntut perusahaan itu untuk mengganti kerugian kami," tekad Pesi.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada statement resmi dari pihak Pertamina Adera maupun dari SKK Migas.***