AYOJAKARTA.COM - Ahli forensik digital, Rismon Sianipar fokus menyampaikan bukti tertulis untuk membuktikan kebenaran di balik klaim rekayasa dalam kasus kontroversial kopi sianida.
Dalam upayanya untuk membuktikan bahwa video yang dihadirkan sebagai bukti rekayasa, Rismon menyoroti metadata sebagai bukti kuat.
Menurut Rismon Sianipar, identifikasi metadata menjadi landasan bukti tertulis yang tak terbantahkan. Salah satu contohnya adalah perubahan downscaling dari resolusi video asli 1920x1080 pixel menjadi 960x576 pixel, yang terdokumentasi dalam surat resmi.
"Kalau saya mengajukan bukti visual, mereka mereka akan dengan gampang untuk mencari pembenaran," kata Rismon Sianipar dikutip ayojakarta dari YouTube Balige Academy pada Rabu (6/3/2024).
Rismon Sianipar menegaskan bahwa bukti tertulis dalam bentuk metadata memiliki kekuatan matematis yang tak terbantahkan, yang tidak dapat dipatahkan oleh argumen, subjektif atau perspektif.
"Dengan bukti tertulis lah bisa menangkap basah mereka, karena bukti tertulis itu matematika, jadi tidak bisa dibantah, kalau bukti visual itu perspektif, bias dan subjektif," jelasnya.
Dalam pengujian di persidangan, Rismon Sianipar menyoroti kejanggalan dalam kecepatan tangan dan sebaran warna yang terdapat dalam video.
Namun, ia menyatakan bahwa bukti visual hanya berperan sebagai pendukung dan penguat, sementara bukti tertulis menjadi landasan utama untuk menangkap kebenaran.
"Dalam kasus kopi sianida ini saya tidak hanya menyertakan bukti visual saja karena bukti visual itu lemah, sehingga bukti visual ini hanya bukti menyertai dan bukti penguat," terangnya.
Untuk itu ia menekankan bahwa bukti visual cenderung rentan terhadap penafsiran subjektif, sementara bukti tertulis memiliki dasar matematis yang kokoh.
"Dengan bukti tertulis ini sampai sekarang mereka tidak bisa membantah saya, karena saya menguasai analisa matematikanya, dampak dari downscaling, upscaling, perubahan intensitas intensitas didalamnya itu memang matematika," tandasnya.
Dengan fokus pada bukti tertulis dan analisis matematis, Rismon Sianipar membawa kejelasan dalam upaya untuk menemukan kebenaran di balik kasus yang menjadikan Jessica Wongso menjadi terdakwa ini.***