News

Penyebaran Nyamuk Wolbachia Membahayakan? Tak Diketahui Efek Jangka Panjangnya, Mantan Menkes: Saya Nggak Rela Rakyat jadi Kelinci Percobaan!

Oleh: Sulistiyaningsih Senin 26 Feb 2024, 09:13 WIB
Siti Fadilah, mantan Menteri Kesehatan

AYOJAKARTA.COM - Agar bisa menekan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), pemerintah melalui Kementerian Kesehatan menerapkan inovasi teknologi wolbachia.

Dikatakan bahwa bakteri wolbachia yang disisipkan dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti diklaim bisa menurunkan replikasi virus dengue sehingga dapat mengurangi kemampuan nyamuk dalam penularan penyakit DBD.

Namun penyebaran nyamuk wolbachia di Indonesia tengah menjadi pro-kontra di masyarakat.

Baca Juga: Mantan Menkes Dr. Siti Fadhilah Blak-blakan Sebut Nyamuk Wolbachia Produk Rekayasa

Siti Fadilah, mantan Menteri Kesehatan kembali menyuarakan terkait program penyebaran nyamuk wolbachia di Indonesia.

Dikatakan bahwa sebelumnya sempat ada Profesor Uut dari UGM yang meneliti mengenai nyamuk wolbachia dengan baik.

Hasil penelitian tersebut bahwa dengan menyebar nyamuk wolbachia pada daerah tertentu dan dalam kurun waktu tertentu terbukti menurunkan angka kesakitan demam berdarah sebanyak 77 persen.

Baca Juga: Benarkah Nyamuk Wolbachia Proyek Bill Gates dan Berbahaya? Eks Menkes Siti Fadilah Supari Bongkar Fakta Mengejutkan

Kendati memang sangat bagus menurunkan penyebaran DBD, tetapi Siti Fadilah menyebut bahwa efek jangka panjangnya belum diketahui.

“Untuk jangka panjang belum ada nggak diketahui, apakah nanti berbahaya nggak tahu,” ujarnya dikutip AyoJakarta.com dari YouTube R66 Newlitics pada Senin 26 (26/2/2024).

“Hasilnya Profesor UUT itulah yang dipakai oleh World Mosquito Program (WMP) untuk menyebarkan virus, menyebarkan wolbachia ini ke seluruh dunia. Diambillah 11 negara, terutama Indonesia nomor 1,” sambungnya.

Baca Juga: Nyamuk Wolbachia Rencana Bisnis Farmasi Dunia? Komjen Dharma Sebut Permintaan Bill Gates dan Melinda Foundation

Mantan Menkes ini menyayangkan bahwa penelitian terhadap nyamuk wolbachia yang dilakukan oleh Profesor UUT hanya dilakukan pada tempat tertentu dan sangat sebentar.

Sehingga menurutnya belum diketahui jangka panjangnya untuk lingkungan dan efek lainnya.

“Ada Profesor UUT yang sangat luar biasa, tapi ya itu pada tempat tertentu, pada ini tertentu, dan Cuma sebentar banget 5 bulan kalau nggak salah,” kata Siti Fadilah.

“Nah kita tidak tahu efek jangka panjangnya untuk lingkungan, untuk yang lain-lain. Nah artinya yang punya keinginan untuk mencoba di Indonesia bukan Menteri Kesehatan tapi WMP,” imbuhnya.

Menurutnya World Mosquito Program ingin mencoba apakah hasil penyebaran nyamuk wolbachia bisa digunakan untuk daerah yang besar atau tidak punya pilot proyek melalui Menteri Kesehatan.

Baca Juga: Nyamuk Wolbachia Diklaim Ampuh Turunkan Demam Berdarah, Kemenkes Libatkan 25 Peneliti

“Itu yang saya dalam hati saya nggak rela rakyat saya dijadikan kelinci percobaan oleh NGO asin yang namanya WMP,” ungkap Siti Fadilah.

“Tentu saja dia menggunakan pemerintah kita. Saya mau mengingatkan itu yang punya mau kan WMP yang mana kita yang dipakai kelinci percobaan. Nah itu prinsipnya di situ kenapa saya menolaknya,” tambahnya.***

Reporter Sulistiyaningsih
Editor Desi Kris