AYOJAKARTA.COM - Pertemuan antara Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, dengan Presiden Joko Widodo mendadak mencuri perhatian publik.
Pasalnya penghitungan suara masih berlangsung, dan manuver-manuver ini memunculkan pertanyaan.
Apakah pertemuan elite politik ini untuk mencari teman koalisi untuk memastikan posisi mereka setelah hasil resmi diumumkan atau akan beroposisi
Terlebih pertemuan Surya Paloh dengan Jokowi ini menjadi sorotan karena hubungan keduanya sempat merenggang saat kontestasi pilpres beberapa waktu lalu.
Hubungan mereka sempat diwarnai ketegangan setelah deklarasi sepihak Anies Baswedan oleh Nasdem.
Meski pertemuan ini menimbulkan spekulasi, baik dari publik maupun pihak terkait, mengenai topik pembicaraan mereka, namun secara resmi disebutkan sebagai pertemuan silaturahmi.
Koordinator Staf Khusus Presiden, Ari Dwipayana, menjelaskan bahwa pertemuan ini adalah atas permintaan Surya Paloh.
Ari mengatakan betul presiden menerima Surya Paloh di Istana Merdeka. Sebelumnya Surya Paloh menyampaikan permohonan untuk menghadap Presiden.
Sebagai tanggapan atas permohonan tersebut, presiden mengalokasikan waktu untuk menerima Surya Paloh malam hari di Istana Merdeka
Namun, pernyataan dari Sekretaris Jenderal Partai Nasdem, Hermawi Taslim, mengklaim bahwa Surya Paloh diundang oleh Jokowi untuk memenuhi undangan makan malam di Istana Negara.
Hal ini mengundang kebingungan terkait siapa yang sebenarnya menginisiasi pertemuan.
Berbagai tanggapan muncul dari berbagai pihak terkait pertemuan ini.
Jubir Tim Nasional Amin, Billy David, menyebut pertemuan ini tidak mengubah misinya sebagai agen perubahan.
"Mungkin Pak Surya Paloh yang beruntung nih dapat giliran yang pertama ya dan itu dilakukannya di ruang publik. Kita enggak diundang makan siang, enggak diundang makan malam, tapi dilakukan secara resmi. Kita tetap pada prinsip bahwa koalisi 01 adalah partai-partai yang berintegritas melihat bahwa partai koalisi ini tetap solid, tetap dalam arahan semangatnya ada di jalur perubahan," jelasnya dikutip dari Kompas TV, Selasa 20 Februari 2024.
Sementara Anies Baswedan, menilai pertemuan ini sebagai hal yang biasa-biasa saja.
"Saya tidak melihat ada perubahan sikap sikap tetap konsisten berada di dalam koalisi perubahan atau tidak. Saya selalu berkomunikasi, sama tidak ada tidak pergeseran pertemuan. Pertemuan itu sesuatu yang biasa-biasa," ujarnya.
Presiden Jokowi sendiri mengonfirmasi pertemuan ini dan menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan langkah positif untuk menyatukan berbagai pihak.
Namun, ia menolak berkomentar lebih lanjut mengenai siapa yang menginisiasi pertemuan tersebut.
"Yang terpenting pertemuan Minggu malam itu bermanfaat untuk politik di Indonesia. Itu pertemuan politik biasa. Saya kira dua-duanya tidak perlu siapa yang mengundang, siapa yang diundang. Nggak perlu, yang paling penting memang ada pertemuan dan itu akan sangat bermanfaat bagi perpolitikan," jelas dia.
Ketua DPD PKB, Cucun Ahmad Syahrijal, mengungkapkan keheranannya terhadap pertemuan ini karena tidak ada koordinasi dengan ketua-ketua partai koalisi pendukung Anies Muhaimin.
Hingga saat ini, PKB belum menentukan sikap apakah akan bergabung dengan koalisi atau menjadi oposisi.
"Sampai sekarang rekapitulasi terkait Pilpres pun masih berjalan. Jadi tidak ada pembicaraan atau misalkan bicara dengan partai-partai koalisi kami untuk berbicara bagaimana terkait loncat ataupun bisa mengambil sikap sampai sekarang tidak ada pembicaraan terkait itu," tukas David.
Baca Juga: Hari Ini Hari Terakhir Pencairan PKH dan BPNT lewat Pos Indonesia, Segera Kunjungi Cabang Terdekat!
Dengan masih berlangsungnya proses rekapitulasi hasil pemungutan suara, keputusan partai-partai politik untuk menentukan posisi mereka di panggung politik Indonesia belum sepenuhnya terwujud.
Semua pihak masih menunggu hasil resmi dan terkait dengan itu, pembicaraan terkait koalisi atau oposisi belum dapat dilakukan secara pasti.