AYOJAKARTA.COM -- Ahli Forensik Digital, Rismon Sianipar mengungkapkan fakta baru terkait persidangan kontroversial kasus pembunuhan Mirna Salihin.
Menurutnya, Jaksa Shandy Handika diduga menggunakan video CCTV yang telah direkayasa dalam pemeriksaan terhadap Jessica Wongso.
Ketika Jessica Wongso dihadirkan sebagai tersangka di persidangan pada 28 September 2016, Jaksa Shandy Handika memancing jawaban Jessica Wongso dengan menggunakan rekaman dari kamera CCTV yang diduga telah dimanipulasi.
Baca Juga: Bongkar Fakta Terbaru Kasus Jessica Wongso, Rismon Sianipar Kuliti Jaksa Shandy Handika, Ada Apa?
Menurut rekaman, CCTV tersebut telah mengalami penurunan resolusi secara sengaja, membuatnya kabur dan tidak jelas.
"Shandy Handika mengonfirmasi jawaban Jessica Wongso, tapi yang dia gunakan adalah kamera CCTV 3 yang sudah direkayasa dengan cara diturunkan resolusi framenya dengan downscaling dari 1920x1880 menjadi 960x760 agar video CCTV tersebut menjad kabur," ungkap Rismon Sianipar dikutip ayojakarta.com dari YouTube Balige Academy pada Kamis (15/2/2024).
Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa rekaman dari kamera CCTV yang dimaksud juga telah dirusak Christopher Hariman Rianto dan Muhammad Nuh Al Azhar.
Mereka diduga melakukan konversi video warna tiga kanal menjadi satu kanal sehingga menghilangkan informasi penting seperti warna kopi yang dapat menjadi jejak dalam kasus tersebut.
"Video kamera 3 juga dirusak oleh Christopher Hariman Rianto dan Muhammad Nuh Al Azhar dengan cara mengonversi video warna tiga kanal YUV menjadi satu kanal," katanya.
Salah satu momen krusial yang diungkap Rismon Sianipar adalah ketika Devi Siagian mengambil sisa kopi Mirna Salihin di meja nomor 54 menuju bar koktail.
Informasi warna yang seharusnya dapat diekstrak dari rekaman CCTV tersebut telah disamarkan dengan sengaja.
"Seharusnya dari kamera CCTV 3 ini bisa di ekstrak warna kulit, wajah maupun lengan Mirna Salihin ketika dibawa dari Kafe Olivier," ujarnya.
Rekaman dari kamera CCTV ini seharusnya dapat memberikan informasi penting seperti warna kulit, gestur dan pergerakan dari para pelaku.
Namun, upaya untuk menghilangkan informasi warna tersebut dapat memengaruhi analisis psikologis yang dilakukan terhadap kasus ini.
"Jaksa seperti ini tidak menghargai kemurnian, keotentikan, integritas dan keutuhan data. Data digital yang mereka gunakan tidak terjamin keasliannya," tegasnya.***