News

Ray Rangkuti Sebut Dirty Vote Bukan Black Campaign, Ini Alasannya

Oleh: Francisca Wuri Sulistyowati,ST Selasa 13 Feb 2024, 13:11 WIB
Ray Rangkuti menjelaskan bahwa data yang digunakan dalam film "Dirty Vote" adalah data yang sudah pernah diperiksa, dilihat, dan diakui.

AYOJAKARTA.COM - Pakar komunikasi politik Ray Rangkuti angkat bicara mengenai film dokumenter "Dirty Vote" yang menuai kontroversi menjelang Pilpres 2024.

Menurut Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, film tersebut adalah black campaign.

Terutama karena ditayangkan pada waktu masa tenang.

Namun Rangkuti memiliki pandangan berbeda.

Menurutnya film ini tidak menyebarkan fitnah dan tidak termasuk black campaign

"Tidak bisa disebut black campaign sebelum dibuktikan datanya berbohong," kata Rangkuti kepada Zilvia Iskandar dalam sebuah wawancara di Metro TV, Senin 12 Februari 2024.

"Sampai sejauh ini kan tidak ada mekanisme untuk membuktikannya," lanjut dia.

Rangkuti menjelaskan bahwa data yang digunakan dalam film "Dirty Vote" adalah data yang sudah pernah diperiksa, dilihat, dan diakui oleh beberapa pihak.

Baca Juga: Bongkar Kepribadian Seseorang dari Merek HP yang Jadi Favorit, Pemakai iPhone Orang yang Pamer?

"Datanya tidak bohong," tegasnya.

Dia juga menambahkan bahwa pakah film ini berimplikasi kepada elektoral, itu tergantung kepada masyarakat.

"Apakah mereka menerima fakta-fakta yang diungkapkan di film tersebut dan memutuskan pilihan mereka untuk melawan kecurangan?" lanjutnya.

Rangkuti menilai film dokumenter seperti "Dirty Vote" lebih berdampak pada pemilih yang belum memutuskan atau masih ragu.

"Film ini bisa memotivasi mereka untuk datang ke TPS dan memastikan pemilu berjalan dengan baik," ujarnya.

"Sebagian besar pemilih, khususnya di kelompok kelas menengah dan Gen Z, menginginkan pelaksanaan pemilu yang dikelola dengan cara yang baik dan benar," beber Rangkuti.

Hal yang pasti menurut Rangkuti, kelompok tersebut ingin pemimpin yang bersih di masa depan.

Reporter Francisca Wuri Sulistyowati,ST
Editor Aris Abdulsalam