AYOJAKARTA.COM - Kampanye Akbar ketiga paslon Pilpres Pemilu 2024 kemarin (10/2/24) digelar secara besar-besaran di tiga basis tempat berbeda.
Pasangan Capres Cawapres nomor urut satu Ganjar Pranowo dan Mahfud MD menggelar Kampanye Akbar terakhir di Benteng Vastenburg Surakarta dan Simpang Lima Semarang.
Sedangkan pasangan Capres Cawapres nomor urut dua Prabowo Subianto dan Gibran menggelar Kampanye Akbar di Stadion GBK Jakarta.
Sementara pasangan Capres Cawapres nomor urut satu Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar menggelar Kampanye Akbar yang dihadiri ratusan ribu simpatisannya di Jakarta Internasional Stadium (JIS).
Ketiga paslon habis-habisan menggelar kampanye akbar di hari terakhir masa kampanye Pilpres Pemilu 2024.
Banyak pakar hingga pengamat politik menyoroti apakah ketiga paslon menggelar Kampanye Akbar besar-besaran ini efektif menarik suara dari pemilih yang belum mantap atau swing voter.
Baca Juga: Hadiri Kampanye Akbar di Solo, Megawati Ingatkan Rakyat Jangan Pilih Presiden yang Bagi-bagi Sembako
Dilansir AyoJakarta.com dari unggahan video YouTube tvoneNews, pengamat politik Hanta Yuda membedah bagaimana keefektifan Kampanye Akbar ketiga paslon dalam menyasar pemilih yang belum mantap untuk memilih kandidat salah satu paslon.
"Ada tiga tujuan dilakukan masing-masing kandidat dari kubu mereka ingin menunjukkan kekuatannya, kebolehannya atau supposed bahwa mereka jadi semacam selebrasi politik di ujung", jelas Hanta Yuda.
Hanta Yuda juga menjelaskan bahwa kampanye akbar digelar untuk memberikan efek psikologis bawah mereka kuat, solid, kuat.
Baca Juga: Hadir Kampanye Akbar di GBK Jakarta, Gibran dan Selvi Ananda Menggunakan Motor Listrik Ini
Selain itu, mereka menyasar bagi orang yang belum punya pilihan dapat ikut trending karena kontestasi pilpres dengan kampanye akbar ini dianggap hal yang besar.
Pengamat politik yang juga Pendiri dan Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia sejak tahun 2012 ini juga menyoroti struktur pemilih yang dapat disasar ketiga tim sukses ketiga calon untuk lebih memperkuat basis perolehan suara nanti.
1. Struktur pemilih strong di mana sudah kuat dari sisi kemantapan dalam memilih paslon yang didukung.
Berdasarkan hasil survei Lembaga Survei Poltracking Indonesia data survei menunjukkan rata-rata 70% pemilih strong berada dan merata di masing-masing paslon.
2. Struktur pemilih yang rasional atau terdidik di mana belum tentu datang ke TPS karena tidak melihat paslon hanya berdasarkan kampanye akan tetapi lebih mendalami program kerja dan rekam jejak masing-masing paslon.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Capres Ganjar Pranowo Mengadakan Kampanye Akbar Di Solo dan Semarang
3. Swing voter yang bisa menjadi sasaran pendekatan secara psikologis karena dikategorikan sebagai pemilih yang masing bimbang dalam menentukan pilihannya baik di kubu paslon masing-masing atau voter lawan.
Hanta Yuda juga menyoroti pengambilan suara pemilih di kategori swing voter di kubu lawan agak sulit akan tetapi kalau untuk memantapkan pilihan pemilih yang belum mantap di Paslon masing-masing masih sangat besar.
Pergeseran pemilih dari kubu lawan bisa saja terjadi jika terjadi dua hal besar misalnya adanya program, gimik atau isu politik dari masing-masing paslon meledak atau adanya blunder politik yang dampaknya mendasar.
Oleh karena itu, yang bisa dilakukan oleh masing-masing paslon untuk memperkuat basis perolehan suara saat nanti waktu pencoblosan Pilpres Pemilu 2024, sebagai berikut:
1. Menyasar pemilih swing voter yang belum yakin sisi lawan supaya ada pergeseran walaupun peluangnya kecil.
2. Memantapkan swing voter di kubu masing-masing paslon agar lebih kuat atau strong dalam mendukung dan memilih paslon tersebut.
3. Memobilisasi basis yang sudah strong untuk datang ke TPS dengan kemampuan untuk menggerakkan basisnya untuk memilih masing-masing paslon sehingga berpengaruh terhadap tingkat perolehan suara. ***