AYOJAKARTA.COM – Gerakan salam 4 jari yang muncul di media sosial dianggap bertujuan untuk membendung suara pasangan calon (paslon) nomor urut 2 yakni Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Salam 4 jari merupakan gerakan atau ajakan untuk tidak memilih paslon Prabowo =-Gibran dalam Pilpres 2024.
Mengenai fenomena tersebut, pakar politik Ahmad Khairul Umam mengatakan ada kecenderungan swing voters untuk memilih paslon yang memiliki potensi menang lebih besar.
Umam menilai gerakan salam 4 jari dimunculkan untuk membendung suara mengambang yang berpotensi memilih paslon Prabowo-Gibran.
“Dalam konteks ini salam 4 jari tampaknya juga menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan band awakening effect. Sehingga kemudian basis swing voters atau undecided voters terutama dari segmen kelas menengah terdidik untuk kemudian tidak masuk dalam band wakening effect untuk memberikan dukungan kepada paslon yang memiliki potensi menang lebih besar,” kata Umam dikutip dari kanal YouTube TV One News, Jumat, 2 Februari 2024.
Umam mengungkapkan gerakan salam 4 jari melambangkan kekompakkan antara pendukung paslon nomor urut 1 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan paslon nomor urut 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD.
Baca Juga: Fitur Terbaru Instagram, Kini Tidak Perlu Lagi Bikin “Second Account” dan Cukup Aktifkan Ini
Hal ini dilakukan untuk mencegah potensi Pilpres satu putaran yang selama ini diserukan oleh pihak Prabowo-Gibran.
Terlebih saat ini elektabilitas Prabowo-Gibran jauh lebih unggul daripada dua paslon lainnya.
“Yang bisa dilakukan adalah upaya menahan 02 supaya konsolidasinya tidak begitu optimal. Maka salam 4 jari ini adalah sebuah simbol dari kekompakan kubu 01 dan 03 untuk melakukan perlawanan secara kompetitif bagi kubu 02,” ungkapnya.
Umam menjelaskan bahwa ada pihak yang kemungkinan berpotensi menyatukan kubu Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud dengan gerakan salam 4 jari.
Terlebih jika Pilpres 2024 harus berjalan dua putaran, tentu ini menjadi kekhawatiran bagi kubu Prabowo-Gibran.
“Bahwa ada common enemy, ada musuh bersama yang bisa atau berpotensi menyatukan kubu 01 dan 03 untuk berada di satu kekuatan yang sama yang kemudian disimpulkan dengan salam 4 jari ini. Tetapi satu hal yang perlu diantisipasi adalah bahwa kompromi dan juga negosiasi kepentingan di tingkat elit mungkin terjadi. Tetapi belum tentu kemudian negosiasi dan juga kompromi di tingkat elit itu betul-betul kemudian bisa mengakar, bisa diterjemahkan secara clear karena tampaknya ada sejumlah tantangan,” jelasnya.
Tidak hanya tantangan ideologis, tantangan lain adalah mengobati luka lama akibat konfrontasi dua pimpinan partai masing-masing kubu.
Salah satunya mengenai komunikasi antara Megawati Soekarnoputri dan Surya Paloh pada akhir 2022 lalu yang memunculkan statement terbuka tentang partai sombong hingga memunculkan reaksi balik dan ketegangan.
“Ketika kemudian sekarang harus dipersatukan misalnya oleh realitas kepentingan di putaran kedua barangkali bisa terjadi. Tetapi di saat yang sama ini harus dibuktikan,” tutupnya.