AYOJAKARTA.COM - Mantan Menteri Kesehatan, Dr. Siti Fadhilah, mengungkapkan bahwa nyamuk Wolbachia merupakan hasil rekayasa dalam upaya menangani demam berdarah.
Penelitian ini dimulai oleh Prof. Uut, seorang peneliti Indonesia, yang menemukan telur Wolbachia dalam nyamuk Aedes aegypti yang diimpor dari Australia.
Ia mengatakan, bahwa Wolbachia sebenarnya merupakan bakteri yang diselipkan dalam nyamuk, untuk dapat menurunkan kasus demam berdarah.
Baca Juga: UPDATE JADWAL CAIR Bansos PKH dan BPNT Tahap 1 2024 KPM dan Wilayah Ini Duluan Cair!
"Rekayasanya itu bahwa nyamuk diselipin wolbachia dan ternyata dari hasil penelitian nyamuk wolbachia bisa menurunkan demam berdarah," ungkap Dr. Siti Fadhilah dikutip ayojakarta.com dari channel YouTube Cerita Untungs pada Senin (29/1/2024).
Penelitian Prof. Uut itu, kata Dr. Siti mendapat dukungan dari World Mosquito Program (WMP).
Kemudian, WMP berkeinginan untuk meluaskan penemuan Prof. Uut, dan Menteri Kesehatan Indonesia mengeluarkan SK untuk ujicoba di lima kota di Indonesia.
"Kota yang telah diujicobakan nyamuk Wolbachia adalah Semarang, Jakarta Barat, Bandung, Kupang, dan Bontang," ujarnya.
Namun, keputusan ini menimbulkan kontroversi ketika 150 juta nyamuk Wolbachia ditempatkan di Semarang tanpa pengetahuan publik.
"Menkes menyimpan nyamuk sebanyak 150 juta di Semarang. Disebarin segitu banyak nyamuk rakyat tidak tahu," sebutnya.
Setelah itu, ia mengungkapkan para ahli nyamuk dan ahli ekologi dari Bali mengajukan keberatan terhadap rencana serupa di Pulau Dewata kepada dirinya.
Mereka khawatir wisatawan akan menghindari Bali jika terjadi penyebaran 240 juta nyamuk. Setelah penolakan dari masyarakat Bali itu, rencana penyebaran tersebut akhirnya dibatalkan.
"Kami baru bangun dari covid, kami sudah trauma dari covid sebab rencananya di Bali akan disebar sebanyak 240 juta nyamuk. Tapi setelah rakyat Bali menolak tidak jadi disebar," pungkasnya.