AYOJAKARTA.COM – Jelang Debat Pilpres sesi keempat yang akan dilangsungkan pada 21 Januari 2024 mendatang, sejumlah opini mulai banyak berkembang.
Sebagian kalangan menilai, Debat Pilpres sesi keempat akan berlangsung lebih panas dari debat sesi kedua yang menghadirkan ketiga cawapres.
Terlebih pasca pelaksanaan Debat Pilpres sesi ketiga pada 7 Januari 2024 lalu di mana Jokowi sempat mengomentari sejumlah hal terkait format debat.
Saat menyampaikan pernyataan kepada awak media, Jokowi mengevaluasi debat capres yang dinilai kurang menonjolkan visi misi dan gagasan.
Kendati mendapat tanggapan langsung dari Jokowi, namun Komisi Pemilihan Umum selaku penyelenggara berkeras untuk tak mengubah format debat.
Sehubungan dengan ketetapan KPU yang tak mengubah format debat, Wihadi Wiyanto selaku Jubir TKN Prabowo-Gibran memberi tanggapan.
Menurut Wihadi, keputusan yang ditetapkan KPU terkait format debat cawapres merupakan hal yang harus dihormati setiap peserta Pilpres guna mencapai tujuan dari suatu perdebatan.
Wihadi berharap agar pada debat-debat mendatang peran moderator benar-benar bisa dimaksimalkan sehingga substansi materi dari suatu perdebatan yang tengah berjalan dan menjadi pembahasan tak mengalami distorsi atau pembiasan.
“Serang menyerang atau adu program itu tidak akan muncul kalau sang moderator tidak memberikan suatu panduan terhadap pertanyaan,” jelas Wihadi.
Lebih lanjut Wihadi menambahkan, kurang maksimalnya peran moderator dalam memandu materi perdebatan berpotensi menjadi aksi serang secara pribadi.
Terkait dengan pergeseran materi debat yang menjadi bola liar karena kurang maksimalnya peran moderator, Islah Bahrawi selaku TPN Ganjar-Mahfud memberi tanggapan.
Menurut Bahrawi, dinamika yang terjadi dan berkembang di dalam suatu perdebatan merupakan suatu kepastian dan tak mungkin dihindari.
Dialektika yang terjadi dalam sebuah perdebatan, menurut Bahrawi merupakan bagian dari konfrontasi gagasan yang terus mengalami akselerasi.
“Debat Pilpres yang ada di negara-negara demokratis yang sudah sangat mapan, berkembangnya akselerasi dari forum itu memang tidak bisa dihindari,” jelas Bahrawi.
Saat debat pilpres sesi ketiga berlangsung, salah satu persoalan yang kurang mendapat perhatian adalah peran Prabowo Subianto selaku Menhan sekaligus Capres.
Adanya multi peran yang dijalani oleh seorang kandidat capres, membuat sebuah pertanyaan menjadi rumit untuk dimengerti publik.
Sehubungan dengan kritik yang disampaikan Jokowi mengenai format debat, menurut Bahrawi merupakan suatu ironi.
Sebab sejumlah pertanyaan serta pernyataan capres Anies Baswedan dalam debat adalah hal sama yang dilakukan Joko Widodo kepada Prabowo Subianto sebelumnya.
“Debat tidak bisa diatur, dia akan berkembang dengan logika sendiri,” tegas Bahrawi dikutip Ayojakarta.com pada Kamis 18 Januari 2024 dari YouTube Kompas TV.***