AYOJAKARTA.COM -- Suasana Debat Pilpres 2024 ketiga yang digelar Minggu (7/1/2024) kemarin memang masih meninggalkan banyak polemik di tengah masyarakat.
Khususnya suasana panas yang terjadi antara para capres mulai dari Anies Baswedan yang terus menyerang Prabowo Subianto, begitu juga Ganjar Pranowo.
Hal ini cukup menggelitik di mata seorang budayawan Sujiwo Tejo yang menurutnya ada yang salah pada Debat Pilpres 2024 ketiga tersebut.
Dalam sebuah kesempatan, Sujiwo Tejo mengungkapkan pendapatnya soal Debat Pilpres 2024 ketiga yang menampilkan para capres tersebut.
Namun meski memberikan pendapat, Sujiwo Tejo di awal pernyataannya menegaskan bahwa dia tidak memihak salah satu paslon dan mengatakan bahwa dirinya mendukung semua paslon yang maju sebagai capres.
Lebih lanjut, Sujiwo Tejo menyebut ada kesalahan dan kekurangan dari Debat Pilpres 2024 ketiga yang dinilainya sangat fatal.
“Kekurangan dari debat kemarin itu ini bukan debat antar calon presiden tapi debat antar calon presiden dengan menteri pertahanan,” ungkap Sujiwo Tejo seperti dikutip Ayojakarta.com pada kanal YouTube tvOneNews, Sabtu (13/1/2024).
Menurut Sujiwo, seharusnya dalam debat, setiap capres harus memperlakukan capres lain dengan status yang sama.
“Jadi harusnya Pak Prabowo diperlakukan sebagai calon presiden di situ, bukan menteri pertahanan, itu fatal menurut aku!” tegasnya.
Sujiwo menilai bahwa dalam debat capres, harusnya yang dipertanyakan adalah visi misi ke depan dan bukan kembali ke masa belakang ketika Prabowo menjadi Menteri Pertahanan.
“Jadi yang ditanya kan visi ke depan tentang pertahanan, bukan yang kemarin-kemarin. Karena yang kemarin dia jadi menteri pertahanan. Gimana bisa terjadi di Indonesia ini, logikanya mana,” tutur pria yang juga menjadi sastrawan Indonesia ini.
Baca Juga: Pasca Debat Capres Ketiga, Elektabilitas Ganjar Pranowo Kalahkan Prabowo dan Anies
Hal kedua yang dianggap fatal oleh Sujiwo Tejo adalah ketika yang dibahas soal pertahanan, namun materi budaya tidak disinggung sama sekali.
Padahal menurutnya budaya lebih besar dari sekedar pertahanan.
“Kedua, fatalnya adalah pertahanan itu oke alat-alat perang, tapi yang paling besar dari pertahanan adalah budaya, disitu sama sekali nggak disinggung!” tegasnya lagi.
Dan dia pun menyentil KPU untuk kemudian dalam tema selanjutnya bisa memberikan kesempatan para calon pemimpin memaparkan gagasannya soal budaya Indonesia.***