AYOJAKARTA.COM – Masyarakat Indonesia pasti sudah tidak asing dengan cangkir yang memiliki motif abstrak loreng berwarna hijau dan putih.
Cangkir tersebut kerap dipakai untuk menyajikan minuman dan dikenal dengan nama teko blirik.
Sekarang ini banyak restoran dan kafe yang menggunakan wadah tersebut untuk menyajikan minuman.
Teko blirik dibuat dari seng yang dilapisi enamel sehingga membuatnya lebih awet, tahan karat, dan tahan panas.
Baca Juga: 22 Desember 2023 Diperingati Sebagai Hari Ibu, Inilah Sejarah Singkat dan Maknanya!
Karena ketahanannya itulah teko blirik sering digunakan untuk wadah minuman seperti kopi dan teh.
Sekarang teko blirik dianggap sebagai barang yang sangat khas dengan Indonesia.
Lalu bagaimana sejarah teko blirik di Indonesia?
Mengutip kanal YouTube Boss Sedjarah, teko tersebut sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda dan berasal dari luar negeri.
Pada tahun 1845, seorang pedagang Asal Belanda yang lahir di Belgia bernama Jan Mooijen membuka toko teko blirik yang dibawa dari negara asalnya.
Kemudian orang-orang Belanda yang ada di Indonesia membelinya dan menyebarkannya ke berbagai daerah di Tanah Air.
Pada saat itu, orang-orang Belanda memberikan teko blirik kepada masyarakat lokal dan sejak saat itu teko tersebut mulai terkenal di Jawa.
Kala itu, teko blirik diberikan kepada masyarakat lokal karena memiliki alasan dan tujuan.
Teko blirik diberikan kepada masyarakat lokal untuk membedakan identitas antara kalangan bawah seperti buruh dan kalangan atas alias para bangsawan.
Akan tetapi berkat teko tersebut, buruh tani mulai mengenal budaya minum teh seperti yang dilakukan orang Belanda.
Lalu pada tahun 1908, penggunaan teko blirik menjadi penanda identitas seseorang masih bertahan.
Menariknya, teko ini menjadi ikon khas pasar malam di Gambir, Batavia yang menjual berbagai macam jajanan, kerajinan tangan, dan juga teko blirik.
Pada masa perang kemerdekaan, teko ini menjadi simbol perjuangan.
Tidak hanya digunakan oleh buruh tani, pejuang yang berangkat ke medan perang juga membawa barang tersebut sebagai wadah minuman.
Dalam buku Di Bawah Lentera Merah karya Soe Hok Gie, Semarang menjadi salah satu kota yang identik dengan pergerakan politik pada saat itu.
Teko blirik dan caping kemudian menjadi simbol perjuangan para petani, buruh, hingga nelayan.***